Tantangan Bahasa Tech
Setiap kali ada teknologi baru, bahasa harus mencari nama untuknya. Dulu kita perlu komputer, lalu internet, lalu gawai. Sekarang gelombang baru: AI, algoritma, large language model, generative content.
Beberapa istilah berhasil diserap dengan padanan, beberapa tidak. Mari lihat tiga yang sedang hangat.
AI: Antara Serapan dan Padanan
Kecerdasan buatan adalah padanan resmi yang ditetapkan Badan Bahasa untuk artificial intelligence. Tapi dalam pemakaian harian, AI (cara baca: "ei-ai") jauh lebih dominan.
Mengapa?
1. Singkat — 2 huruf vs 17 huruf 2. Internasional — orang Indonesia yang bicara dengan rekan asing tetap pakai AI 3. Lebih spesifik — "kecerdasan buatan" terasa lebih luas, AI terasa lebih spesifik ke teknologi modern
Hasilnya: kedua bentuk hidup berdampingan. Tulisan formal akademik masih pakai "kecerdasan buatan." Berita sehari-hari pakai "AI."
Apakah salah satu pernah menang? Mungkin tidak — bahasa Indonesia punya tradisi panjang menerima singkatan asing (TV, OK, USA) tanpa mempribumikan total.
Algoritma: Lebih Mudah Diterima
Algoritma dari Arab al-Khawarizmi (nama matematikawan abad ke-9). Sudah lama ada di KBBI sebagai istilah matematika. Tapi pemakaian baru tumbuh signifikan sejak 2015-an dalam konteks:
- "Algoritma TikTok"
- "Algoritma Instagram"
- "Algoritma rekomendasi"
LLM: Singkatan yang Belum Diserap
Large Language Model (LLM) masih sering ditulis utuh atau sebagai singkatan asli. Tidak ada padanan resmi yang nyangkut.
Beberapa percobaan padanan:
- Model bahasa besar — terlalu literal, terdengar canggung
- Model bahasa skala besar — lebih akurat tetapi panjang
- Model bahasa raksasa — terlalu sastrawi
Ini menggambarkan lag antara teknologi baru dan kemampuan bahasa menyerap. Padanan butuh waktu untuk muncul, diuji publik, lalu menetap. Kalau teknologi ganti lagi sebelum padanan stabil, kata aslinya yang menang.
Pola Umum Penyerapan Tech
Beberapa pola yang terlihat:
Pola Sukses
- Istilah Internet awal: daring, luring, gawai — sukses karena ringkas dan punya momentum pandemi
- Istilah hardware: cakram (disc), papan ketik (keyboard) — sukses untuk istilah yang sudah lama matang
Pola Gagal
- Singkatan kependekan asing: USB, HDMI, IoT — hampir tidak pernah diserap karena sudah berbentuk akronim
- Istilah cloud era: komputasi awan — secara resmi ada, tapi cloud tetap dominan di percakapan
- Konsep tech baru: blockchain, crypto, NFT — belum ada padanan yang menyangkut
Pola Pencampuran
- Code-switching profesional: "framework-nya pakai React" — bahasa hybrid dimana istilah teknis tidak diterjemahkan tapi tata bahasa Indonesia
- Plesetan kreatif: "ngoding", "nge-deploy" — istilah Inggris dengan imbuhan Indonesia
Apakah Ini Buruk?
Tergantung sudut pandang.
Yang khawatir bilang bahasa Indonesia "dikuasai" istilah asing dan kehilangan jati diri.
Yang pragmatis melihat bahwa bahasa fungsional — yang penting komunikasi jalan, bukan kemurnian. Inggris sendiri penuh serapan Latin, Yunani, Prancis, Jerman; itu tidak bikin Inggris kurang Inggris.
Kenyataan di tengah: bahasa Indonesia sehat kalau berhasil menyerap dengan adaptasi — bukan mengganti semua atau menerima semua mentah.
Penutup
Bahasa selalu berlomba dengan teknologi. Kadang menang, kadang kalah, kadang berdamai. Yang penting: bahasa Indonesia masih hidup, masih bergerak, masih dipakai oleh jutaan orang untuk membicarakan dunia yang baru.
Itu cukup.