Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Kata Baru· 5 menit baca

Kata Baru: 'AI', 'Algoritma', dan Penyesuaian Bahasa Tech

Bagaimana bahasa Indonesia menyerap istilah teknologi yang muncul lebih cepat dari kemampuan Badan Bahasa menerjemahkannya

Oleh

Tantangan Bahasa Tech

Setiap kali ada teknologi baru, bahasa harus mencari nama untuknya. Dulu kita perlu komputer, lalu internet, lalu gawai. Sekarang gelombang baru: AI, algoritma, large language model, generative content.

Beberapa istilah berhasil diserap dengan padanan, beberapa tidak. Mari lihat tiga yang sedang hangat.

AI: Antara Serapan dan Padanan

Kecerdasan buatan adalah padanan resmi yang ditetapkan Badan Bahasa untuk artificial intelligence. Tapi dalam pemakaian harian, AI (cara baca: "ei-ai") jauh lebih dominan.

Mengapa?

1. Singkat — 2 huruf vs 17 huruf 2. Internasional — orang Indonesia yang bicara dengan rekan asing tetap pakai AI 3. Lebih spesifik — "kecerdasan buatan" terasa lebih luas, AI terasa lebih spesifik ke teknologi modern

Hasilnya: kedua bentuk hidup berdampingan. Tulisan formal akademik masih pakai "kecerdasan buatan." Berita sehari-hari pakai "AI."

Apakah salah satu pernah menang? Mungkin tidak — bahasa Indonesia punya tradisi panjang menerima singkatan asing (TV, OK, USA) tanpa mempribumikan total.

Algoritma: Lebih Mudah Diterima

Algoritma dari Arab al-Khawarizmi (nama matematikawan abad ke-9). Sudah lama ada di KBBI sebagai istilah matematika. Tapi pemakaian baru tumbuh signifikan sejak 2015-an dalam konteks:

  • "Algoritma TikTok"
  • "Algoritma Instagram"
  • "Algoritma rekomendasi"
Kata ini berhasil karena: 1. Sudah baku — tidak ada kontroversi ejaan 2. Punya banyak konteks — bisa pakai dengan kata sandang ("algoritma yang menentukan...") 3. Tidak ada padanan lebih singkat — "rumus" tidak setepat itu

LLM: Singkatan yang Belum Diserap

Large Language Model (LLM) masih sering ditulis utuh atau sebagai singkatan asli. Tidak ada padanan resmi yang nyangkut.

Beberapa percobaan padanan:

  • Model bahasa besar — terlalu literal, terdengar canggung
  • Model bahasa skala besar — lebih akurat tetapi panjang
  • Model bahasa raksasa — terlalu sastrawi
Hasilnya: penulis profesional masih pakai "LLM" atau "model bahasa besar" tergantung konteks formalitas.

Ini menggambarkan lag antara teknologi baru dan kemampuan bahasa menyerap. Padanan butuh waktu untuk muncul, diuji publik, lalu menetap. Kalau teknologi ganti lagi sebelum padanan stabil, kata aslinya yang menang.

Pola Umum Penyerapan Tech

Beberapa pola yang terlihat:

Pola Sukses

  • Istilah Internet awal: daring, luring, gawai — sukses karena ringkas dan punya momentum pandemi
  • Istilah hardware: cakram (disc), papan ketik (keyboard) — sukses untuk istilah yang sudah lama matang

Pola Gagal

  • Singkatan kependekan asing: USB, HDMI, IoT — hampir tidak pernah diserap karena sudah berbentuk akronim
  • Istilah cloud era: komputasi awan — secara resmi ada, tapi cloud tetap dominan di percakapan
  • Konsep tech baru: blockchain, crypto, NFT — belum ada padanan yang menyangkut

Pola Pencampuran

  • Code-switching profesional: "framework-nya pakai React" — bahasa hybrid dimana istilah teknis tidak diterjemahkan tapi tata bahasa Indonesia
  • Plesetan kreatif: "ngoding", "nge-deploy" — istilah Inggris dengan imbuhan Indonesia

Apakah Ini Buruk?

Tergantung sudut pandang.

Yang khawatir bilang bahasa Indonesia "dikuasai" istilah asing dan kehilangan jati diri.

Yang pragmatis melihat bahwa bahasa fungsional — yang penting komunikasi jalan, bukan kemurnian. Inggris sendiri penuh serapan Latin, Yunani, Prancis, Jerman; itu tidak bikin Inggris kurang Inggris.

Kenyataan di tengah: bahasa Indonesia sehat kalau berhasil menyerap dengan adaptasi — bukan mengganti semua atau menerima semua mentah.

Penutup

Bahasa selalu berlomba dengan teknologi. Kadang menang, kadang kalah, kadang berdamai. Yang penting: bahasa Indonesia masih hidup, masih bergerak, masih dipakai oleh jutaan orang untuk membicarakan dunia yang baru.

Itu cukup.

Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Kata Baru

    Bahasa Gaul Per Daerah: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan

    Bukan Satu Bahasa Gaul Sering kita anggap "bahasa anak muda Indonesia" adalah satu kesatuan. Padahal kalau…

    6 menit baca

  2. Kata Baru

    Bahasa SMS yang Mengubah Cara Kita Menulis Indonesia

    Era yang Sudah Lewat tapi Meninggalkan Jejak SMS — Short Message Service — sudah hampir punah dalam pemakaian…

    5 menit baca

  3. Kata Baru

    Bahasa Anak Muda 2026: Dari "Slay" sampai "Mager"

    Generasi Z dan Alpha Indonesia menciptakan dialek mereka sendiri. Beberapa kata bertahan, beberapa lewat…

    6 menit baca