Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 7 menit baca

Mengenal Majas: 16 Gaya Bahasa dan Contohnya

Dari metafora sampai ironi — cara bahasa menyampaikan lebih dari sekadar makna harfiah

Oleh

Ketika Bahasa Tidak Berkata Apa Adanya

Saat seseorang berkata "hatiku hancur berkeping-keping", hatinya tentu tidak benar-benar pecah. Saat penyair menulis "angin berbisik di telinga malam", angin tentu tidak punya mulut. Inilah majas — cara berbahasa yang menyimpang dari makna harfiah untuk menciptakan kesan, keindahan, atau penekanan.

Majas (atau gaya bahasa) adalah salah satu alat paling kuat dalam sastra dan komunikasi sehari-hari. Memahaminya membantu kita membaca puisi, menikmati prosa, dan menulis dengan lebih hidup.

Majas umumnya dikelompokkan menjadi empat kategori besar: perbandingan, pertentangan, penegasan, dan sindiran.

1. Majas Perbandingan

Metafora

Membandingkan dua hal secara langsung tanpa kata pembanding. Dia adalah tulang punggung keluarga. Buku adalah jendela dunia.

Simile (Perumpamaan)

Membandingkan dengan kata pembanding: seperti, bagai, laksana, ibarat. Wajahnya pucat bagai bulan kesiangan. Semangatnya membara seperti api.

Personifikasi

Memberi sifat manusia pada benda mati. Daun-daun menari ditiup angin. Ombak berbisik di tepi pantai.

Metonimia

Menyebut sesuatu dengan nama hal lain yang melekat padanya. Dia mengendarai Honda. (merujuk motor merek Honda) Mari kita minum Aqua. (merujuk air mineral)

Sinekdoke

Menyebut sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) atau sebaliknya (totum pro parte). Setiap kepala dikenai iuran. (kepala = orang) Indonesia menang lawan Thailand. (negara = tim)

2. Majas Pertentangan

Hiperbola

Melebih-lebihkan secara berlebihan. Aku menunggumu seribu tahun. Suaranya menggelegar membelah langit.

Litotes

Merendahkan diri, mengecilkan sesuatu yang sebenarnya tidak kecil. Mampirlah ke gubuk kami. (padahal rumahnya besar) Terimalah hadiah kecil ini.

Paradoks

Pernyataan yang tampak bertentangan tapi mengandung kebenaran. Dia merasa kesepian di tengah keramaian. Hidup ini mati tanpa cinta.

Antitesis

Memadukan dua kata berlawanan. Tua-muda, kaya-miskin, semua hadir. Suka dan duka kita lalui bersama.

3. Majas Penegasan

Repetisi

Mengulang kata untuk penekanan. Maju, maju, dan terus maju!

Pleonasme

Menambahkan kata yang sebenarnya sudah terkandung maknanya (untuk penegasan). Saya turun ke bawah. Dia masuk ke dalam.

Klimaks

Menyusun gagasan dari yang sederhana ke yang penting/kompleks. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.

Retoris

Pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Siapa yang tidak ingin bahagia? Bukankah kita semua akan mati?

4. Majas Sindiran

Ironi

Menyatakan kebalikan dari maksud sebenarnya, secara halus. Bagus sekali nilaimu, sampai gurumu kaget. (padahal jelek)

Sarkasme

Sindiran kasar dan langsung. Dasar otak udang, begitu saja tidak bisa!

Sinisme

Sindiran yang lebih tajam dari ironi tapi tidak sekasar sarkasme. Tentu saja kau yang paling pintar di sini, ya?

Tabel Ringkasan

| Kategori | Majas | Ciri | |---|---|---| | Perbandingan | Metafora, simile, personifikasi | Menyamakan dua hal | | Pertentangan | Hiperbola, litotes, paradoks | Melebih/mengurangi/berlawanan | | Penegasan | Repetisi, retoris, klimaks | Memperkuat pesan | | Sindiran | Ironi, sarkasme, sinisme | Menyindir halus → kasar |

Mengapa Belajar Majas?

Majas bukan cuma materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Ia hadir di mana-mana: dalam lirik lagu, iklan, pidato, judul berita, bahkan percakapan sehari-hari.

Memahami majas membuat kita:

  • Pembaca yang lebih peka — menangkap maksud tersembunyi di balik kata
  • Penulis yang lebih hidup — menyampaikan pesan dengan kesan, bukan datar
  • Pendengar yang lebih kritis — mengenali kapan bahasa dipakai untuk membujuk atau menyindir
Bahasa yang kaya majas adalah bahasa yang hidup. Dan kemampuan mengenalinya adalah salah satu tanda penguasaan bahasa yang sesungguhnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan metafora dan simile?
Metafora membandingkan dua hal secara langsung tanpa kata pembanding, misalnya "dia tulang punggung keluarga". Simile memakai kata pembanding seperti, bagai, atau laksana.
Apa itu majas personifikasi?
Personifikasi adalah majas yang memberi sifat manusia pada benda mati, misalnya "daun-daun menari ditiup angin".
Apa contoh majas hiperbola?
Hiperbola melebih-lebihkan secara berlebihan, misalnya "aku menunggumu seribu tahun" atau "suaranya menggelegar membelah langit".
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Kalimat Verbal dan Nominal: Mengenal Kalimat dari Jenis Predikatnya

    Coba perhatikan dua kalimat ini: "Adik menangis" dan "Ayahnya guru." Keduanya utuh dan benar, tetapi…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Hubung (-) menurut EYD V: Fungsi Lengkap dan Beda dengan Tanda Pisah

    Tanda hubung tampak sepele: hanya satu garis pendek yang mudah diabaikan. Namun garis kecil inilah yang…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kerja Sama atau Kerjasama? Aturan Gabungan Kata Menurut EYD V

    "Kerja sama" atau "kerjasama"? "Tanggung jawab" atau "tanggungjawab"? Pertanyaan sederhana ini muncul hampir…

    4 menit baca