Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 3 menit baca

Pemenggalan Kata Menurut EYD V: Aturan Lengkap dan Contoh

Panduan memisah suku kata dengan benar, dari vokal rangkap dan diftong hingga kata berimbuhan.

Oleh

Pernah ragu saat harus memindahkan sebagian kata ke baris berikutnya? Salah menaruh tanda hubung bisa membuat "saudara" terbaca janggal sebagai "sa-udara", atau memaksa pembaca berhenti sejenak untuk menebak maksud Anda. Kabar baiknya, Ejaan yang Disempurnakan (EYD) edisi kelima menyediakan aturan pemenggalan kata yang rapi dan mudah diikuti. Mari kita bongkar polanya satu per satu, lengkap dengan contoh yang bisa langsung Anda tiru saat menulis.

Dua vokal berurutan dipenggal di antaranya

Jika di tengah kata terdapat dua huruf vokal yang berurutan, pemenggalan dilakukan tepat di antara keduanya. Karena itu "buah" menjadi bu-ah, "main" menjadi ma-in, dan "saat" menjadi sa-at. Pola yang sama berlaku pada ni-at, ku-o-ta, dan ke-a-da-an. Syaratnya sederhana: kedua vokal itu memang dilafalkan sebagai dua bunyi yang berbeda, bukan menyatu menjadi satu.

Diftong ai, au, oi, ei tetap utuh

Aturan tadi memiliki satu pengecualian penting. Gabungan vokal yang membentuk diftong - yakni ai, au, oi, dan ei - dilafalkan sebagai satu bunyi luncur sehingga tidak boleh dipisah. Maka "pantai" dipenggal pan-tai, bukan panta-i. Begitu pula "saudara" menjadi sau-da-ra, "amboi" menjadi am-boi, dan "survei" menjadi sur-vei. Kuncinya adalah membedakan dua vokal biasa yang kebetulan berdampingan dari diftong yang benar-benar menyatu; bila ragu, ucapkan katanya perlahan dan dengarkan apakah kedua vokal itu terdengar sebagai satu luncuran.

Konsonan di antara dua vokal

Bila hanya ada satu konsonan yang berdiri di antara dua vokal, konsonan itu ikut ke suku kata sesudahnya. Jadi "bapak" menjadi ba-pak, "kabar" menjadi ka-bar, dan "mutakhir" menjadi mu-ta-khir. Contoh lain yang sering dipakai adalah su-lit, ta-hu, dan ge-lang. Perlu diingat, gabungan huruf ng, ny, kh, dan sy dihitung sebagai satu konsonan utuh. Itulah sebabnya "dengan" dipenggal de-ngan dan "kenyang" menjadi ke-nyang, bukan den-gan atau ken-yang.

Dua atau tiga konsonan berurutan

Ketika dua konsonan bertemu di tengah kata, pemenggalan jatuh di antara keduanya: "mandi" menjadi man-di, "caplok" menjadi cap-lok, dan "swasta" menjadi swas-ta. Sekali lagi, gabungan ng, ny, kh, dan sy tidak pernah dibelah, sehingga "bangun" tetap ba-ngun dan "nyanyi" tetap nya-nyi.

Untuk tiga konsonan berurutan atau lebih, pemenggalan dilakukan setelah konsonan pertama. Dengan begitu "instrumen" menjadi in-stru-men, "ultra" menjadi ul-tra, dan "kontrol" menjadi kon-trol.

| Kata | Pemenggalan | Dasar aturan | | --- | --- | --- | | buah | bu-ah | dua vokal berurutan | | pantai | pan-tai | diftong ai tetap utuh | | bapak | ba-pak | satu konsonan ke belakang | | mandi | man-di | dua konsonan dibelah | | bangun | ba-ngun | ng tidak dipisah | | ultra | ul-tra | tiga konsonan |

Kata berimbuhan dan kata gabungan

Pada kata berimbuhan, imbuhan dipenggal dari kata dasarnya sebagai satu kesatuan. Awalan berdiri sendiri - ber-jalan, mem-bantu, di-ambil, ter-bawa - dan akhiran pun demikian, seperti makan-an serta letak-kan. Partikel yang ditulis serangkai mengikuti pola yang sama, misalnya pergi-lah dan apa-kah.

Kata yang tersusun dari beberapa unsur, seperti istilah serapan, dipenggal lebih dulu di antara unsur-unsurnya, baru kemudian tiap unsur mengikuti kaidah suku kata. Karena itu "biografi" dapat dipenggal bio-grafi, "fotografi" menjadi foto-grafi, dan "kilogram" menjadi kilo-gram. Prinsip ini menjaga makna tiap unsur tetap terbaca meski kata dipisah antarbaris.

Rambu satu huruf di ujung baris

Ada satu rambu yang kerap terlupa: jangan memenggal sampai tersisa satu huruf sendirian di ujung atau awal baris. Kata "itu" tidak dipotong menjadi i-tu pada pergantian baris, dan "setia" tidak dibiarkan berakhir seti-a dengan huruf "a" berdiri sendirian. Meski secara suku kata pembagiannya sah, tampilan seperti itu justru mengganggu keterbacaan.

Menguasai pemenggalan bukan sekadar soal kerapian visual. Ia menjaga alur baca sekaligus menandai penulis yang cermat terhadap detail. Latih sedikit demi sedikit, dan lama-lama Anda tidak perlu lagi membuka pedoman. Setelah pola-pola dasar ini melekat, memindahkan kata antarbaris akan terasa otomatis - dan naskah Anda pun tampak lebih terpercaya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah diftong seperti au dan ai boleh dipenggal?
Tidak. Diftong ai, au, oi, dan ei dilafalkan sebagai satu bunyi sehingga tidak dipisah. Contohnya, "saudara" dipenggal sau-da-ra dan "pantai" menjadi pan-tai.
Bagaimana cara memenggal gabungan huruf ng dan ny?
Gabungan ng, ny, kh, dan sy dianggap sebagai satu konsonan dan tidak pernah dibelah, sehingga "bangun" menjadi ba-ngun dan "nyanyi" menjadi nya-nyi.
Bagaimana memenggal kata berimbuhan seperti makanan?
Imbuhan dipisahkan dari kata dasarnya, jadi "makanan" dipenggal makan-an dan "berjalan" menjadi ber-jalan.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Kalimat Verbal dan Nominal: Mengenal Kalimat dari Jenis Predikatnya

    Coba perhatikan dua kalimat ini: "Adik menangis" dan "Ayahnya guru." Keduanya utuh dan benar, tetapi…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Hubung (-) menurut EYD V: Fungsi Lengkap dan Beda dengan Tanda Pisah

    Tanda hubung tampak sepele: hanya satu garis pendek yang mudah diabaikan. Namun garis kecil inilah yang…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kerja Sama atau Kerjasama? Aturan Gabungan Kata Menurut EYD V

    "Kerja sama" atau "kerjasama"? "Tanggung jawab" atau "tanggungjawab"? Pertanyaan sederhana ini muncul hampir…

    4 menit baca