Banyak orang menyebut semua kalimat bijak warisan leluhur sebagai peribahasa, lalu bingung ketika guru bahasa memisahkan pepatah, bidal, dan ungkapan. Padahal keempat istilah itu tidak saling bertukar secara bebas. Ada satu payung besar dan beberapa cabang di bawahnya, masing-masing dengan tugas yang berbeda. Memahami peta kecil ini membuat tulisan Anda lebih tepat sekaligus menumbuhkan rasa terhadap kekayaan bahasa Indonesia.
Peribahasa, sang payung besar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu. Dua kata kuncinya penting: susunannya tetap dan maknanya kias. Anda tidak bisa mengganti kata di dalamnya sesuka hati tanpa merusak bentuk aslinya. Yang sering terlewat, KBBI menegaskan bahwa peribahasa juga mencakup bidal, ungkapan, dan perumpamaan. Dengan kata lain, peribahasa adalah payung besar, sedangkan pepatah, bidal, dan ungkapan adalah cabang di bawahnya. Perumpamaan, yang memakai kata pembanding seperti bagai, laksana, atau umpama, juga termasuk keluarga ini, misalnya bagai pinang dibelah dua.
Pepatah, ajaran dari orang tua
Pepatah adalah peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran orang-orang tua. Nadanya menuntun, bukan mengejek, dan tujuannya menanamkan nilai seperti ketekunan, kesabaran, atau kerendahan hati. Kalimat sedikit bicara banyak bekerja termasuk pepatah karena mengajarkan sikap hidup yang lebih mengutamakan kerja daripada ucapan. Contoh klasik lain adalah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, yang menekankan ketekunan, serta tak ada gading yang tak retak, yang mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Karena isinya berupa ajaran, pepatah kerap dikutip orang tua kepada anak atau guru kepada murid sebagai pegangan.
Bidal, sindiran dan peringatan
Bidal adalah peribahasa yang mengandung sindiran, peringatan, atau ejekan halus. Contoh yang kerap disebut adalah malu bertanya sesat di jalan, yakni peringatan agar kita tidak gengsi untuk bertanya. Nada bidal cenderung lebih tajam daripada pepatah karena sering menyorot perilaku tertentu. Peribahasa air beriak tanda tak dalam, misalnya, menyindir orang yang banyak bicara padahal dangkal ilmunya. Berdekatan dengan bidal ada istilah pameo, yaitu semboyan yang tumbuh di masyarakat untuk membangkitkan semangat atau mengejek. Keduanya kerap disebut bersama karena sama-sama bernada mengingatkan, meskipun pameo lebih condong menjadi semboyan ketimbang nasihat panjang.
Perumpamaan, kias yang memakai kata banding
Satu anggota keluarga peribahasa yang mudah dikenali adalah perumpamaan. Cirinya jelas: ada kata pembanding seperti bagai, bak, laksana, seperti, atau umpama yang menyandingkan dua hal. Peribahasa bagai pinang dibelah dua menggambarkan dua orang yang amat mirip, sedangkan seperti air di daun talas melukiskan orang yang tidak tetap pendirian. Karena membandingkan secara terbuka, perumpamaan terasa paling gamblang di antara saudara-saudaranya. Banyak orang menyebutnya peribahasa perbandingan, dan sebutan itu tidak keliru.
Ungkapan atau idiom, kias yang bukan kalimat
Ungkapan, yang lazim disebut juga idiom, berbeda bentuk dari empat jenis di atas. Ia bukan kalimat penuh, melainkan gabungan dua kata atau lebih yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditebak dari arti tiap katanya. Banting tulang tidak berhubungan dengan membanting tulang secara harfiah; maknanya adalah bekerja keras. Contoh lain yang akrab di telinga adalah kambing hitam untuk pihak yang dipersalahkan, buah tangan untuk oleh-oleh, dan besar kepala untuk sikap sombong. Para ahli bahasa membedakan idiom penuh, yang seluruh katanya sudah kehilangan makna asli seperti meja hijau untuk pengadilan, dari idiom sebagian, yang masih menyisakan satu kata bermakna asli seperti daftar hitam. Karena hanya berupa frasa, ungkapan mudah disisipkan ke tengah kalimat sehari-hari, sementara pepatah dan bidal umumnya berdiri sebagai kalimat utuh.
Ringkasan perbedaan
Tabel berikut merangkum kedudukan dan ciri tiap istilah agar mudah diingat.
| Jenis | Kedudukan | Isi dan nada | Bentuk | Contoh | | --- | --- | --- | --- | --- | | Peribahasa | Payung besar | Kiasan tetap | Frasa atau kalimat | Mencakup semua jenis di bawah | | Pepatah | Cabang | Nasihat atau ajaran orang tua | Kalimat | Sedikit bicara banyak bekerja | | Bidal (pameo) | Cabang | Sindiran atau peringatan | Kalimat | Malu bertanya sesat di jalan | | Perumpamaan | Cabang | Perbandingan terbuka | Kalimat dengan kata banding | Bagai pinang dibelah dua | | Ungkapan (idiom) | Cabang | Makna kias yang menyatu | Gabungan kata, bukan kalimat | Banting tulang |
Menutup
Menguasai perbedaan ini bukan soal menghafal label, melainkan memilih bentuk yang pas untuk maksud Anda. Ketika ingin menasihati, pepatah terasa hangat. Ketika ingin menegur, bidal lebih mengena. Ketika hanya butuh satu frasa kias yang ringkas, ungkapan sudah cukup. Dan bila lupa nama masing-masing, ingat saja bahwa semuanya bernaung di bawah satu payung bernama peribahasa.