Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 5 menit baca

Naik ke Atas, Mundur ke Belakang: 20 Frasa Mubazir yang Sering Kita Pakai

Mengenal pleonasme — pemborosan kata yang diam-diam menyusup ke percakapan sehari-hari

Oleh

Kata yang Sebenarnya Tidak Perlu

Coba perhatikan kalimat ini: "Dia naik ke atas tangga lalu masuk ke dalam ruangan." Terdengar wajar, kan? Padahal ada pemborosan di sana. Naik sudah pasti ke atas; masuk sudah pasti ke dalam. Kata ke atas dan ke dalam sebenarnya mubazir.

Inilah pleonasme: penggunaan kata yang maknanya sudah terkandung dalam kata lain di frasa yang sama. Pleonasme tidak selalu salah — kadang dipakai sengaja untuk penegasan — tetapi dalam tulisan formal, ia sering dianggap sebagai pemborosan yang mengurangi ketajaman.

20 Frasa Mubazir yang Umum

| Frasa mubazir | Cukup ditulis | Alasan | |---|---|---| | naik ke atas | naik | naik = ke atas | | turun ke bawah | turun | turun = ke bawah | | mundur ke belakang | mundur | mundur = ke belakang | | maju ke depan | maju | maju = ke depan | | masuk ke dalam | masuk | masuk = ke dalam | | keluar dari | keluar | keluar = dari dalam | | saling pukul-memukul | saling memukul | saling = berbalasan | | para hadirin | hadirin | hadirin = sudah jamak | | para tamu-tamu | para tamu | dobel jamak | | banyak rumah-rumah | banyak rumah | dobel jamak | | sejak dari | sejak / dari | makna tumpang tindih | | agar supaya | agar / supaya | sinonim digabung | | demi untuk | demi / untuk | sinonim digabung | | adalah merupakan | adalah / merupakan | sinonim digabung | | disebabkan karena | disebabkan / karena | makna sama | | seperti misalnya | seperti / misalnya | makna sama | | amat sangat besar | amat besar / sangat besar | dobel penguat | | zaman dahulu kala | zaman dahulu | "kala" mubazir | | warna merah | merah | warna sudah implisit | | bulan Januari | Januari | "bulan" mubazir di konteks tertentu |

Pleonasme Jamak Ganda

Salah satu pleonasme paling sering: penanda jamak ditumpuk.

Bahasa Indonesia menandai jamak dengan beberapa cara — kata bilangan (banyak, para, beberapa) atau reduplikasi (rumah-rumah). Masalahnya, sering keduanya dipakai sekaligus:

  • para guru-guru → ✅ para guru atau guru-guru
  • banyak siswa-siswa → ✅ banyak siswa
  • semua hadirin → ✅ hadirin (sudah jamak) atau semua yang hadir
Pilih satu penanda jamak, jangan ditumpuk.

Sinonim yang Digabung

Kesalahan klasik lain: menggabungkan dua kata yang artinya sama.

  • agar supaya → keduanya berarti "supaya". Pilih satu.
  • demi untuk → keduanya berarti "untuk".
  • adalah merupakan → keduanya kata kerja kopula. Pilih satu.
  • disebabkan karena → cukup disebabkan oleh atau karena.

Kapan Pleonasme Boleh?

Pleonasme tidak selalu kesalahan. Dalam beberapa konteks, ia berfungsi sebagai gaya bahasa penegas (majas pleonasme):

  • "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri." — penegasan kuat
  • "Turun ke bawah!" dalam perintah mendesak — menambah ketegasan
  • Dalam puisi dan pidato, pengulangan makna bisa memperkuat efek emosional
Yang perlu dihindari adalah pleonasme tanpa sadar dalam tulisan formal — skripsi, laporan, artikel — yang seharusnya ringkas dan tepat.

Mengapa Menghindari Frasa Mubazir?

Tulisan yang bebas pemborosan kata terasa:

1. Lebih tajam — pembaca langsung menangkap maksud tanpa kata pengganggu 2. Lebih profesional — menunjukkan penulis yang sadar setiap kata 3. Lebih efisien — hemat ruang, terutama penting di judul dan ringkasan

Cara Melatih Kepekaan

Setelah menulis, baca ulang dan tanyakan untuk setiap kata: "Apakah makna ini sudah ada di kata lain?" Kalau ya, salah satunya bisa dibuang.

Contoh proses: "Para peserta-peserta naik ke atas panggung untuk maju ke depan.""Peserta naik ke panggung untuk maju." → Lebih ringkas, lebih kuat, tanpa kehilangan makna.

Menulis yang baik bukan soal menambah kata, melainkan tahu kata mana yang bisa dibuang. Seperti kata pepatah penulis: kalimat terbaik adalah yang tidak bisa dikurangi satu kata pun lagi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu pleonasme?
Pleonasme adalah penggunaan kata yang maknanya sudah terkandung dalam kata lain sehingga mubazir, misalnya "naik ke atas" atau "mundur ke belakang".
Mengapa "para hadirin" dianggap salah?
Karena "hadirin" sudah bermakna jamak, sehingga menambah "para" menjadi berlebihan. Cukup ditulis "hadirin".
Apakah pleonasme selalu salah?
Tidak. Dalam sastra dan penegasan, pleonasme bisa dipakai sengaja sebagai gaya bahasa. Yang dihindari adalah pemborosan tanpa sadar dalam tulisan formal.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Kalimat Verbal dan Nominal: Mengenal Kalimat dari Jenis Predikatnya

    Coba perhatikan dua kalimat ini: "Adik menangis" dan "Ayahnya guru." Keduanya utuh dan benar, tetapi…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Hubung (-) menurut EYD V: Fungsi Lengkap dan Beda dengan Tanda Pisah

    Tanda hubung tampak sepele: hanya satu garis pendek yang mudah diabaikan. Namun garis kecil inilah yang…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kerja Sama atau Kerjasama? Aturan Gabungan Kata Menurut EYD V

    "Kerja sama" atau "kerjasama"? "Tanggung jawab" atau "tanggungjawab"? Pertanyaan sederhana ini muncul hampir…

    4 menit baca