Kenapa Nama Kakek Kita Ditulis Aneh?
Kalau Anda melihat dokumen lama, nama-nama tertulis dengan ejaan yang terasa asing: Soekarno, Soeharto, Djakarta, Jogjakarta, tjahaja, oentoek. Itu bukan salah ketik — itu ejaan resmi Bahasa Indonesia pada masanya.
Ejaan Bahasa Indonesia telah berubah beberapa kali sejak awal abad ke-20. Setiap perubahan mencerminkan upaya menyederhanakan dan memandirikan bahasa dari pengaruh kolonial. Mari kita telusuri perjalanannya.
1901 — Ejaan Van Ophuijsen
Ejaan resmi pertama disusun oleh Charles van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda, dibantu Engku Nawawi dan Moehammad Taib. Karena dirancang oleh orang Belanda, ejaan ini sangat dipengaruhi sistem ejaan Belanda.
Ciri khasnya:
- oe untuk bunyi [u]: boekoe (buku), oentoek (untuk)
- j untuk bunyi [y]: sajang (sayang), jang (yang)
- dj untuk bunyi [j]: djalan (jalan), Djakarta
- tj untuk bunyi [c]: tjinta (cinta), katja (kaca)
- nj untuk bunyi [ny]: njonja (nyonya)
- ch untuk bunyi [kh]: achir (akhir)
- Tanda ' (koma di atas) untuk bunyi hamzah/k: ma'loem (maklum)
1947 — Ejaan Republik (Ejaan Soewandi)
Tak lama setelah merdeka, Menteri Pendidikan Soewandi mengeluarkan ejaan baru pada 19 Maret 1947. Tujuannya menyederhanakan ejaan Van Ophuijsen.
Perubahan utama:
- oe menjadi u: boekoe → buku, Soerabaja → Surabaja
- Tanda koma hamzah diganti k: ta' → tak
- Bunyi [e] pepet dan taling tidak dibedakan
Menariknya, nama orang sering tidak ikut berubah. Banyak yang mempertahankan ejaan lama namanya (Soekarno tetap dengan oe) karena nama dianggap identitas pribadi.
1972 — Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
Inilah reformasi terbesar. Pada 16 Agustus 1972, Presiden Soeharto meresmikan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), hasil kerja sama dengan Malaysia untuk menyeragamkan ejaan kedua negara.
Perubahan besar: | Lama | EYD 1972 | Contoh | |---|---|---| | dj | j | Djakarta → Jakarta | | j | y | sajang → sayang | | tj | c | tjinta → cinta | | nj | ny | njonja → nyonya | | sj | sy | sjarat → syarat | | ch | kh | achir → akhir |
Setelah 1972, tulisan Indonesia mulai terlihat seperti yang kita kenal sekarang. Cinta, Jakarta, sayang — semua bentuk modern lahir dari reformasi ini.
2015 — PUEBI
Pada 2015, EYD diperbarui menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) melalui peraturan menteri. Perubahannya tidak sebesar 1972 — lebih banyak penyempurnaan aturan, seperti penggunaan huruf kapital, huruf tebal, dan penulisan unsur serapan.
2022 — Kembali ke Nama "EYD"
Pada 2022, melalui Keputusan Kepala Badan Bahasa, pedoman ejaan kembali dinamai EYD Edisi V. Jadi secara resmi, ejaan yang berlaku sekarang disebut EYD Edisi Kelima — memperbarui dan menggantikan PUEBI.
Perubahan pada EYD V termasuk penambahan aturan untuk hal-hal baru, seperti penggunaan tanda baca tertentu dan penulisan bentuk serapan dari berbagai bahasa.
Garis Waktu Ringkas
| Tahun | Ejaan | Ciri utama | |---|---|---| | 1901 | Van Ophuijsen | oe, dj, tj, j=y | | 1947 | Republik (Soewandi) | oe → u | | 1972 | EYD | dj→j, tj→c, j→y | | 2015 | PUEBI | penyempurnaan aturan | | 2022 | EYD Edisi V | nama kembali ke EYD |
Mengapa Ejaan Terus Berubah?
Perubahan ejaan bukan tanda bahasa yang tidak stabil, melainkan bahasa yang hidup dan merdeka. Setiap reformasi punya tujuan:
1. Melepas pengaruh kolonial — menghapus jejak ejaan Belanda (oe, dj, tj) 2. Menyederhanakan — satu bunyi idealnya satu huruf 3. Menyeragamkan — terutama dengan Malaysia pada 1972 4. Mengikuti perkembangan — kata serapan baru butuh aturan baru
Warisan yang Masih Terlihat
Jejak ejaan lama masih ada di sekitar kita:
- Nama orang: Soekarno, Soeharto, Djoko
- Nama tempat & merek: Djarum, Toko Oen
- Dokumen dan prasasti lama