Tiga tanda baca ini sering dianggap remeh: sepasang tanda kurung ( ), kurung siku [ ], dan sebilah garis miring /. Padahal, di dalam Ejaan Bahasa Indonesia edisi kelima (EYD V), yang berlaku sejak 2022, masing-masing memikul tugas yang jelas. Kalau salah menaruhnya, sebuah keterangan tambahan bisa terbaca seperti koreksi penyunting, atau satu pilihan kata berubah makna. Mari kita rapikan pemakaian ketiganya, satu per satu, lengkap dengan contoh.
Tanda Kurung: Ruang bagi yang Tambahan
Tanda kurung mengapit unsur yang sifatnya sekunder, yaitu keterangan yang bisa dilepas tanpa merusak inti kalimat. Karena isinya dapat dihapus tanpa mengganggu susunan kalimat, apa pun yang diletakkan di dalamnya otomatis turun derajat menjadi informasi pendukung. Dalam praktiknya, ada empat pemakaian yang paling sering muncul.
| Pemakaian | Contoh | | --- | --- | | Keterangan atau penjelasan tambahan | Sajak "Aku" (ditulis pada tahun 1943) masih kerap dibacakan. | | Singkatan atau kepanjangannya | Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data itu kemarin. | | Huruf atau kata yang boleh dihadirkan atau dihilangkan | Pejalan kaki itu berasal dari (Kota) Bandung. | | Angka atau huruf penanda perincian | Syaratnya (1) sehat, (2) jujur, dan (3) cakap. |
Perhatikan bahwa tidak ada spasi di sisi dalam kurung: tulislah (BPS), bukan ( BPS ). Menyisipkan kepanjangan sebuah singkatan, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), adalah penerapan paling lazim dari fungsi keterangan tambahan. Setelah singkatan itu diperkenalkan sekali, penulisan berikutnya cukup memakai bentuk pendeknya.
Fungsi ketiga sering terlupa. Ketika sebuah huruf atau kata masih benar meski dihapus, kita boleh mengurungnya, misalnya (Kota) Bandung atau kata (para) hadirin. Tanda kurung di sini memberi tahu pembaca bahwa unsur itu bersifat pilihan, bukan wajib. Untuk perincian, angka atau huruf diapit sepasang kurung penuh ketika rincian menyatu dalam kalimat, seperti (1), (2), dan (3).
Kurung Siku: Suara Penyunting di Dalam Teks
Jika tanda kurung umumnya milik penulis, kurung siku justru kerap menjadi ruang bagi penyunting atau orang yang mengutip. EYD V memberinya dua tugas.
Koreksi atau tambahan pada tulisan orang lain
Ketika mengutip, kita tidak boleh mengubah naskah asli diam-diam. Setiap perbaikan atau sisipan dari pengutip ditandai dengan kurung siku agar pembaca tahu bagian itu bukan milik sumber.
Contoh: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik itu.
Huruf [d] disisipkan pengutip karena naskah asli tertulis "menengar". Selain menyisipkan huruf yang hilang, kurung siku juga dipakai untuk menambahkan kata penjelas di tengah kutipan agar maksudnya tetap terang. Konvensi ini menjadi taruhan kepercayaan dalam penulisan ilmiah dan jurnalistik: pembaca berhak tahu mana kata asli penutur dan mana sisipan pengutip.
Keterangan di dalam tanda kurung
Bila sebuah keterangan sudah berada di dalam tanda kurung dan masih membutuhkan keterangan lagi, lapisan kedua memakai kurung siku.
Contoh: Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibahas dalam Bab II [lihat halaman 35-38]) perlu diuraikan lebih jauh.
Garis Miring: Ringkas, tetapi Cermat
Pada semua pemakaiannya, garis miring ditulis rapat, tanpa spasi di kiri dan kanannya. EYD V mencatat tiga wilayah tugasnya.
| Pemakaian | Contoh | | --- | --- | | Nomor surat, nomor pada alamat, tahun takwim yang terbagi dua | Nomor: 12/UN/VII/2026; Jalan Melati III/7; tahun ajaran 2025/2026 | | Pengganti kata "dan", "atau", atau "setiap" | mahasiswa/mahasiswi; dikirim lewat darat/laut; Rp5.000,00/lembar | | Koreksi atau pengurangan huruf yang berlebih dalam naskah asli | Ling/g/uistik; /h/utangnya |
Pada nomor surat seperti 12/UN/VII/2026, garis miring memisahkan nomor urut, kode lembaga, bulan dalam angka Romawi, dan tahun sehingga terbaca sebagai satu kesatuan kode. Pada fungsi kedua, garis miring memadatkan kata penghubung: "mahasiswa/mahasiswi" berarti mahasiswa dan mahasiswi, "darat/laut" berarti darat atau laut, sedangkan "Rp5.000,00/lembar" berarti lima ribu rupiah setiap lembar. Bentuk khusus "dan/atau" juga sah; di sini garis miring menggantikan kata "atau", sehingga ungkapan itu memadatkan tiga kemungkinan sekaligus: hanya unsur pertama, hanya unsur kedua, atau keduanya. Karena sangat ringkas, bentuk ini cocok untuk teks resmi seperti kontrak, bukan untuk tulisan naratif.
Garis Miring sebagai Penanda Koreksi
Fungsi ketiga jarang diketahui. Ketika mengutip naskah orang lain dan menemukan huruf yang berlebih, pengutip mengapit bagian yang keliru itu dengan garis miring sebagai tanda bahwa unsur tersebut sebaiknya dibuang.
Contoh: Ling/g/uistik dan /h/utangnya.
Huruf yang diapit, yaitu g kedua dan h, ditandai sebagai kelebihan yang perlu dihilangkan sehingga bentuk bakunya menjadi "linguistik" dan "utangnya". Fungsi ini menjadi pasangan cermin bagi kurung siku: kurung siku menambahkan huruf yang hilang, sedangkan garis miring menandai huruf yang berlebih.
Salah Kaprah yang Perlu Dihindari
- Memberi spasi di sekitar garis miring, misalnya dan / atau. Yang benar rapat: dan/atau. Dalam EYD V, garis miring selalu ditulis tanpa spasi.
- Memakai kurung siku untuk keterangan biasa. Keterangan tambahan adalah tugas tanda kurung; kurung siku khusus untuk koreksi pengutip dan keterangan berlapis.
- Menaruh spasi di sisi dalam kurung, seperti ( catatan ). Yang benar: (catatan).
- Menyangka pemisah larik puisi dengan garis miring berspasi, seperti "langit biru / laut memerah", sebagai aturan EYD. Cara mengutip puisi menyambung itu hanya konvensi tipografi, bukan salah satu dari ketiga fungsi resmi garis miring.
Menutup
Ketiga tanda ini kecil, tetapi memberi isyarat yang berbeda kepada pembaca. Tanda kurung menandai keterangan, kurung siku menandai tambahan pengutip, dan garis miring memadatkan hubungan antarunsur sekaligus dapat menandai koreksi. Dengan begitu, tanda-tanda mungil ini justru menjadi penanda kualitas: tulisan yang menghormati pembaca sekaligus setia pada sumbernya.