Setiap kali kita menulis tanggal pada kepala surat atau menandai hari ulang tahun, kita sebenarnya menyebut nama dewa, ritual kuno, bahkan dua penguasa Romawi tanpa sadar. Kedua belas nama bulan dalam bahasa Indonesia bukan ciptaan asli, melainkan kata serapan yang menempuh jalan panjang: lahir di Roma, singgah di bahasa Belanda, lalu menetap di lidah kita. Mari kita runut satu per satu.
Jalur serapan: dari Latin, lewat Belanda
Nama bulan yang kita pakai sehari-hari masuk ke bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda pada masa kolonial. Bentuk Belanda itu sendiri diwarisi dari bahasa Latin, bahasa Kekaisaran Romawi. Itulah sebabnya ejaan seperti Februari, Oktober, dan Desember terasa mirip dengan banyak bahasa Eropa lain. Yang berubah hanya penyesuaian ejaan agar cocok dengan lafal Indonesia, misalnya Maart menjadi Maret dan December menjadi Desember. KBBI membakukan kedua belasnya seperti pada tabel berikut.
| Indonesia | Belanda | Latin | |---|---|---| | Januari | Januari | Januarius | | Februari | Februari | Februarius | | Maret | Maart | Martius | | April | April | Aprilis | | Mei | Mei | Maius | | Juni | Juni | Junius | | Juli | Juli | Julius | | Agustus | Augustus | Augustus | | September | September | September | | Oktober | Oktober | October | | November | November | November | | Desember | December | December |
Empat bulan pembuka: dewa dan penyucian
Januari diambil dari Januarius, merujuk pada Janus, dewa pintu, permulaan, dan peralihan. Janus digambarkan berwajah dua: satu menghadap ke belakang (masa lalu), satu ke depan (masa depan). Lambang yang pas untuk bulan pergantian tahun.
Februari berasal dari Februarius, dari kata februa, yaitu ritual penyucian yang digelar orang Romawi pada pertengahan bulan ini. Maknanya kira-kira "pembersihan".
Maret berasal dari Martius, dinamai menurut Mars, dewa perang. Dalam kalender Romawi kuno, Maret justru menjadi bulan pertama.
April paling tidak pasti asal-usulnya. Sebagian ahli mengaitkannya dengan kata aperire ("membuka"), merujuk kuncup bunga yang merekah di musim semi; sebagian lain menghubungkannya dengan Venus. Asal kata ini memang masih diperdebatkan sampai sekarang.
Bulan yang mungkin dinamai dewi
Mei umumnya dikaitkan dengan Maia, dewi kesuburan Romawi. Juni biasanya dihubungkan dengan Juno, dewi pelindung yang merupakan istri Jupiter. Namun kita perlu jujur: penyair Romawi Ovidius mencatat kemungkinan lain, yaitu maiores (para sesepuh) untuk Mei dan iuniores (kaum muda) untuk Juni. Kaitan dengan dewi adalah versi yang paling lazim disebut, meski bukan satu-satunya.
Dua penguasa yang mengabadikan nama
Dua bulan berhenti memakai angka dan beralih ke nama tokoh. Juli dahulu bernama Quintilis ("kelima"), lalu diganti menjadi Julius untuk menghormati Julius Caesar, yang lahir pada bulan itu. Agustus dahulu bernama Sextilis ("keenam"), kemudian diubah menjadi Augustus untuk menghormati Kaisar Augustus. Kedua nama lama itu, Quintilis dan Sextilis, sama-sama berasal dari sistem hitung angka; bedanya, keduanya keburu diganti dengan nama tokoh. Empat bulan terakhir tidak mengalami penggantian serupa, sehingga namanya tetap berupa angka sampai hari ini.
Teka-teki September: mengapa "tujuh" jatuh di bulan kesembilan
Inilah bagian yang paling sering membingungkan. Empat nama bulan terakhir jelas berasal dari angka Latin.
| Bulan | Akar Latin | Arti angka | |---|---|---| | September | septem | tujuh | | Oktober | octo | delapan | | November | novem | sembilan | | Desember | decem | sepuluh |
Jika septem berarti tujuh, mengapa September menjadi bulan kesembilan? Jawabannya terletak pada kalender Romawi kuno yang dimulai dari bulan Maret, bukan Januari, dan awalnya hanya terdiri atas sepuluh bulan. Dengan Maret sebagai bulan pertama, hitungannya jatuh persis: September bulan ketujuh, Oktober kedelapan, November kesembilan, dan Desember kesepuluh.
Belakangan, menurut tradisi Romawi, dua bulan baru yaitu Januari dan Februari ditambahkan untuk melengkapi setahun penuh, dan pada akhirnya awal tahun resmi bergeser ke Januari. Akibatnya, keempat bulan berangka itu terdorong dua posisi ke belakang sehingga namanya tak lagi cocok dengan urutannya. Meski begitu, namanya sudah terlanjur melekat dan bertahan sampai hari ini.
Penutup
Dua belas kata yang kita ucapkan setiap hari ternyata menyimpan lapisan sejarah: dewa berwajah dua, ritual penyucian, ambisi dua penguasa, dan sisa sistem hitung kalender yang berusia ribuan tahun. Memahami asal-usulnya membuat sesuatu yang rutin terasa sedikit lebih hidup, sekaligus mengingatkan bahwa bahasa selalu membawa jejak perjalanannya sendiri.