Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 4 menit baca

Diksi: Seni Memilih Kata yang Tepat, Sesuai, dan Lazim

Mengapa "mati", "meninggal", dan "wafat" tidak bisa saling menggantikan begitu saja, dan bagaimana konteks menentukan pilihan kata yang terbaik.

Oleh

Dua kalimat bisa menyampaikan maksud yang sama, tetapi terasa sangat berbeda. "Ayahnya sudah mati" dan "Ayahnya telah wafat" sama-sama mengabarkan kematian, namun yang satu terdengar kasar dan yang lain penuh hormat. Selisih rasa itulah wilayah kerja diksi. Diksi bukan sekadar memperbanyak kosakata, melainkan kemampuan memilih kata yang paling pas untuk makna, situasi, dan pembaca yang kita tuju.

Apa Itu Diksi

Diksi adalah pilihan kata. Penulis yang baik tidak asal memungut kata pertama yang muncul di kepala, tetapi menimbang beberapa kemungkinan lalu memilih satu yang paling tepat. Ada tiga ukuran utama yang biasa dipakai untuk menilai pilihan itu: ketepatan makna, kesesuaian dengan situasi, dan kelaziman pemakaian. Ketiganya bekerja bersama. Kata yang tepat maknanya bisa saja keliru jika tidak sesuai dengan suasana; kata yang sesuai bisa terasa janggal jika tidak lazim digunakan.

Ketepatan: Denotasi, Konotasi, dan Sinonim yang Tak Persis Sama

Ketepatan menyangkut kecocokan kata dengan makna yang dimaksud. Di sini kita perlu membedakan makna denotatif, yaitu makna dasar yang lugas dan apa adanya, dari makna konotatif, yaitu nilai rasa tambahan yang melekat pada sebuah kata.

Kata "perempuan" dan "wanita" sama-sama menunjuk manusia berjenis kelamin perempuan (denotasi sama), tetapi membawa nuansa yang berbeda dalam pemakaian. Begitu pula "kurus", "langsing", dan "ramping": ketiganya menggambarkan tubuh yang tidak gemuk, namun "kurus" cenderung netral atau kurang menyenangkan, sedangkan "langsing" dan "ramping" terasa memuji.

Inilah sebabnya sinonim jarang benar-benar identik. Kelompok kata seputar kematian menjadi contoh paling jelas.

| Kata | Nuansa dan pemakaian lazim | |------|----------------------------| | mati | Netral, lugas; lazim untuk hewan, tumbuhan, mesin; terasa kasar bila untuk manusia | | meninggal | Sopan dan netral; bentuk lengkapnya "meninggal dunia", umum dipakai sehari-hari | | wafat | Penuh hormat; lazim untuk orang yang dihormati atau tokoh | | gugur | Mati dalam pertempuran atau perjuangan; bernuansa kepahlawanan | | tewas | Mati karena kecelakaan, bencana, atau kekerasan; lazim dalam berita |

Menukar satu kata dengan yang lain dapat mengubah makna sekaligus rasa. "Pahlawan itu meninggal di medan perang" tidak salah secara denotasi, tetapi "gugur" jelas lebih tepat karena menangkap konteks perjuangan.

Kesesuaian: Ragam Formal, Informal, Baku, dan Tidak Baku

Kesesuaian menyangkut kecocokan kata dengan situasi dan saluran komunikasi. Sebuah kata bisa benar maknanya tetapi tidak cocok dengan suasananya.

Formal lawan Informal

Dalam percakapan santai, "bilang", "kasih", dan "nggak" terasa wajar. Namun dalam surat resmi, laporan, atau karya ilmiah, kita beralih ke "mengatakan", "memberi", dan "tidak". Memakai ragam informal di forum formal membuat tulisan terkesan kurang serius; sebaliknya, terlalu kaku dalam obrolan ringan membuatnya terdengar canggung.

Baku lawan Tidak Baku

Kata baku adalah bentuk yang sesuai dengan kaidah dan kamus, bukan sekadar yang paling sering dipakai. Banyak penutur keliru memilih bentuk yang populer padahal tidak baku.

| Baku | Tidak baku | |------|------------| | apotek | apotik | | praktik | praktek | | izin | ijin | | silakan | silahkan | | risiko | resiko |

Sebagai catatan, penulisan resmi pun punya kaidahnya sendiri. Berdasarkan EYD V, gelar ditulis dengan tanda titik pada setiap unsur singkatannya dan dipisahkan koma dari nama, misalnya "Rina Hartati, S.E." atau "dr. Budi Santoso". Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa asing dan daerah, judul buku atau terbitan yang dikutip, serta untuk menegaskan huruf atau kata tertentu.

Kelaziman: Kata yang Terdengar Wajar

Kelaziman adalah ukuran apakah sebuah kata terasa alami di telinga penutur. Kadang sebuah pilihan tepat maknanya dan sesuai ragamnya, tetapi tetap janggal karena tidak biasa dipakai dalam pasangan kata itu.

Kita lazim berkata "menjabat tangan", bukan "memegang tangan untuk salam"; "mengejar cita-cita", bukan "memburu cita-cita". Pasangan kata seperti "kambing hitam" atau "buah tangan" sudah mengendap menjadi kelaziman, sehingga menukar salah satu katanya membuat ungkapan kehilangan rasa. Kelaziman inilah yang sering membedakan tulisan yang luwes dari tulisan yang secara tata bahasa benar tetapi terasa kaku.

Diksi, Konteks, dan Audiens

Tidak ada kata yang "terbaik" secara mutlak; yang ada adalah kata yang terbaik untuk konteks tertentu. Pertimbangkan siapa pembacanya, di mana tulisan itu muncul, dan apa tujuannya.

Di sinilah eufemisme berperan. Eufemisme adalah pilihan kata yang lebih halus untuk menggantikan kata yang dianggap kasar atau menyakitkan, seperti "tunarungu" untuk "tuli" atau "dirumahkan" untuk pemutusan hubungan kerja. Eufemisme adalah keputusan diksi yang dipandu konteks dan kepekaan terhadap audiens. Namun, kehalusan perlu seimbang dengan kejujuran; eufemisme yang berlebihan justru bisa mengaburkan maksud.

Memilih kata, pada akhirnya, adalah memilih cara kita memperlakukan makna dan pembaca. Semakin sering kita menimbang ketepatan, kesesuaian, dan kelaziman, semakin tajam pula naluri berbahasa kita. Buka kamus saat ragu, dengarkan rasa kata, dan biarkan konteks menuntun pilihan. Dari kebiasaan kecil itulah lahir tulisan yang jernih dan meyakinkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan makna denotatif dan konotatif?
Makna denotatif adalah makna dasar sebuah kata yang lugas dan apa adanya, sedangkan makna konotatif adalah nilai rasa tambahan yang melekat pada kata itu. Misalnya, 'kurus' dan 'langsing' sama-sama menunjuk tubuh yang tidak gemuk (denotasi sama), tetapi 'langsing' terdengar memuji sementara 'kurus' cenderung netral.
Apa beda kata 'meninggal', 'wafat', dan 'gugur'?
Ketiganya berarti mati tetapi berbeda nuansa dan konteks. 'Meninggal' bersifat sopan dan netral untuk umum, 'wafat' dipakai dengan penuh hormat untuk orang yang dihormati, sedangkan 'gugur' digunakan khusus untuk kematian dalam pertempuran atau perjuangan dan bernuansa kepahlawanan.
Apa yang dimaksud dengan diksi?
Diksi adalah pilihan kata, yaitu kemampuan memilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan maksud. Pilihan kata yang baik dinilai dari tiga hal, yakni ketepatan makna, kesesuaian dengan situasi dan ragam bahasa, serta kelaziman pemakaiannya.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Kalimat Verbal dan Nominal: Mengenal Kalimat dari Jenis Predikatnya

    Coba perhatikan dua kalimat ini: "Adik menangis" dan "Ayahnya guru." Keduanya utuh dan benar, tetapi…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Hubung (-) menurut EYD V: Fungsi Lengkap dan Beda dengan Tanda Pisah

    Tanda hubung tampak sepele: hanya satu garis pendek yang mudah diabaikan. Namun garis kecil inilah yang…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kerja Sama atau Kerjasama? Aturan Gabungan Kata Menurut EYD V

    "Kerja sama" atau "kerjasama"? "Tanggung jawab" atau "tanggungjawab"? Pertanyaan sederhana ini muncul hampir…

    4 menit baca