Coba bandingkan dua kalimat ini: "Petani memanen padi" dan "Padi dipanen petani." Maknanya sama, tetapi rasa dan penekanannya berbeda. Yang pertama menyorot pelakunya, yang kedua menyorot apa yang dikerjakan. Kemampuan berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain inilah salah satu keterampilan dasar menulis yang rapi dalam bahasa Indonesia. Mari kita bedah satu per satu.
Apa Itu Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan perbuatan atau tindakan. Subjek di sini berperan sebagai pelaku. Ciri yang paling kentara, predikatnya biasanya berupa kata kerja berimbuhan me- atau ber-, atau kata kerja tanpa imbuhan untuk verba tertentu.
Contoh:
- Ibu menyiram tanaman. (subjek "Ibu" adalah pelaku)
- Mereka membaca buku di perpustakaan.
- Adik menulis surat.
Aktif transitif dan taktransitif
Kalimat aktif terbagi dua. Kalimat aktif transitif memerlukan objek karena tindakannya mengenai sesuatu, misalnya "Ayah mencuci mobil." Kalimat aktif taktransitif tidak memerlukan objek, misalnya "Bayi itu menangis." Pembedaan ini penting karena hanya kalimat aktif transitif yang bisa diubah menjadi pasif.
Apa Itu Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai perbuatan. Subjek berperan sebagai penderita, bukan pelaku. Predikatnya umumnya berimbuhan di-, ter-, atau ke-an.
Contoh:
- Tanaman disiram (oleh) Ibu. (subjek "Tanaman" dikenai tindakan)
- Buku itu terbawa olehnya.
- Rumah itu kehujanan semalaman.
Pasif persona
Selain pasif berimbuhan di-, bahasa Indonesia mengenal pasif persona, yaitu pasif yang pelakunya berupa kata ganti orang. Pola ini menempatkan kata ganti tepat sebelum kata kerja dasar tanpa imbuhan me- atau di-.
- Surat itu kutulis kemarin. (ku- = saya)
- Pekerjaan ini sudah kaukerjakan. (kau- = kamu)
- Masalahnya akan dia selesaikan. (pelaku "dia" diletakkan tepat di depan verba dasar)
Cara Mengubah Aktif Menjadi Pasif
Mengubah kalimat aktif transitif menjadi pasif mengikuti langkah yang tetap:
1. Pindahkan objek ke depan menjadi subjek. 2. Ubah predikat dari me- menjadi di- (atau ke pasif persona bila pelakunya kata ganti orang pertama atau kedua). 3. Pindahkan subjek lama ke belakang, didahului kata "oleh" yang sering boleh dilesapkan.
| Aktif | Pasif | |---|---| | Andi memukul bola. | Bola dipukul (oleh) Andi. | | Guru menjelaskan materi. | Materi dijelaskan (oleh) guru. | | Saya membaca novel itu. | Novel itu kubaca. | | Kamu menutup pintu. | Pintu kaututup. | | Dia memperbaiki sepeda. | Sepeda diperbaikinya. |
Untuk arah sebaliknya, dari pasif ke aktif, langkahnya tinggal dibalik: pelaku dikembalikan ke depan sebagai subjek dan predikat di- diganti me-.
Kapan Memakai Aktif, Kapan Memakai Pasif
Tidak ada bentuk yang "lebih benar". Yang ada adalah pilihan yang tepat untuk situasi tertentu.
Gunakan kalimat aktif ketika pelaku penting, ketika Anda ingin tulisan terasa langsung dan bertenaga, serta untuk narasi sehari-hari, tulisan populer, dan ajakan. Kalimat aktif cenderung lebih ringkas dan jelas siapa yang bertanggung jawab atas tindakan.
Gunakan kalimat pasif ketika objek atau hasil lebih penting daripada pelakunya, ketika pelaku tidak diketahui atau sengaja tidak disebut, atau ketika Anda ingin nada yang lebih objektif dan formal. Itulah sebabnya kalimat pasif lazim dipakai dalam tulisan ilmiah, laporan, dan teks prosedur.
| Situasi | Bentuk yang cocok | Contoh | |---|---|---| | Menonjolkan pelaku | Aktif | Tim peneliti menemukan spesies baru. | | Menonjolkan hasil atau objek | Pasif | Spesies baru ditemukan di hutan itu. | | Pelaku tidak diketahui | Pasif | Dompet saya dicuri di pasar. | | Laporan atau prosedur | Pasif | Sampel dipanaskan selama lima menit. |
Hati-hati dengan pasif yang berlebihan
Dalam ragam tulis, godaan memakai pasif terus-menerus sering membuat kalimat berputar dan kabur. Jika sebuah laporan menumpuk banyak bentuk pasif sampai pembaca kehilangan jejak siapa pelakunya, pertimbangkan kembali ke aktif untuk bagian-bagian yang menuntut kejelasan tanggung jawab. Keseimbangan antara keduanya itulah yang menandai prosa yang matang.
Pada akhirnya, aktif dan pasif adalah dua sudut pandang atas peristiwa yang sama. Dengan menguasai cirinya dan terbiasa membolak-balik keduanya, Anda punya kendali penuh atas apa yang ingin disorot dalam setiap kalimat. Latih dengan mengubah kalimat-kalimat di sekitar Anda, dan lama-lama perpindahan itu akan terasa alami.