Pernahkah Anda membaca sebuah kalimat yang secara tata bahasa benar, tetapi terasa bertele-tele dan sulit dipahami? Banyak tulisan, mulai dari skripsi hingga surat lamaran, gagal menyampaikan maksud bukan karena salah ejaan, melainkan karena kalimatnya tidak efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan gagasan penulis kepada pembaca secara tepat, jelas, dan tanpa pemborosan kata. Mari kita kenali cirinya dan cara menyusunnya.
Bukan Sekadar Gramatikal
Penting untuk membedakan kalimat gramatikal dari kalimat efektif. Kalimat gramatikal hanya mensyaratkan struktur yang benar, sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat. Namun, kalimat yang benar secara tata bahasa belum tentu efektif. Perhatikan contoh berikut.
> Kepada para hadirin sekalian dimohon untuk berdiri.
Kalimat itu dapat dipahami, tetapi tidak efektif. Kata para dan sekalian sama-sama menandai jamak, sedangkan hadirin sudah berbentuk jamak. Versi efektifnya: Hadirin dimohon berdiri. Kalimat efektif menambahkan syarat ketepatan dan kehematan di atas syarat tata bahasa.
Enam Ciri Kalimat Efektif
Secara umum, kalimat efektif dikenali dari enam ciri berikut.
| Ciri | Inti | |---|---| | Kesatuan gagasan | Memiliki satu ide pokok yang jelas; subjek dan predikat tegas. | | Kehematan | Tidak ada kata mubazir atau pengulangan yang tidak perlu. | | Kesejajaran | Bentuk kata yang setara ditulis dengan pola yang sama. | | Kelogisan | Makna kalimat masuk akal dan dapat diterima nalar. | | Ketegasan | Bagian yang dipentingkan diberi penekanan. | | Kepaduan | Hubungan antarunsur tersusun rapi dan tidak rancu. |
Kesatuan dan kelogisan
Setiap kalimat sebaiknya mengandung satu gagasan utuh dengan subjek dan predikat yang jelas. Hindari kalimat yang subjeknya kabur, misalnya karena diawali kata depan.
- Tidak efektif: Bagi semua mahasiswa wajib mengikuti ujian.
- Efektif: Semua mahasiswa wajib mengikuti ujian.
Kehematan
Kehematan berarti membuang kata mubazir tanpa mengurangi makna. Beberapa pasangan kata yang sering berlebihan: agar supaya, demi untuk, adalah merupakan, naik ke atas, sejak dari, serta para yang dipadukan dengan kata ulang bermakna jamak.
- Tidak efektif: Para siswa-siswa mengerjakan tugas agar supaya nilai mereka baik.
- Efektif: Para siswa mengerjakan tugas agar nilai mereka baik.
Kesejajaran (paralelisme)
Kesejajaran menuntut bentuk yang setara ditulis dengan imbuhan atau pola yang sejajar, terutama dalam perincian.
- Tidak efektif: Kegiatan itu meliputi pendataan, mengelola arsip, dan publikasi.
- Efektif: Kegiatan itu meliputi pendataan, pengelolaan arsip, dan publikasi.
Ketegasan
Ketegasan dicapai dengan menempatkan unsur penting di awal kalimat atau menegaskannya dengan partikel -lah. Contoh: Kejujuranlah yang dinilai dalam ujian ini.
Memperbaiki Kalimat Tidak Efektif
Berikut beberapa contoh perbaikan yang dapat menjadi rujukan saat menyunting.
| Tidak efektif | Efektif | |---|---| | Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. | Saya melihatnya sendiri. | | Dalam rapat itu membahas anggaran. | Rapat itu membahas anggaran. | | Dia adalah merupakan ketua kelas. | Dia ketua kelas. | | Mereka saling bantu-membantu satu sama lain. | Mereka saling membantu. |
Pola perbaikannya konsisten: buang kata mubazir, perjelas subjek, dan satukan gagasan agar tidak berputar.
Catatan Ejaan yang Sering Tercampur
Kalimat efektif sering berkaitan dengan ketepatan ejaan. Dalam EYD V, beberapa kaidah perlu diperhatikan saat menulis kalimat formal.
- Gelar. Singkatan gelar diikuti tanda titik dan dipisahkan dengan koma dari nama, misalnya Dewi Lestari, S.H. atau dr. Andi Wijaya. Perhatikan bahwa dr. (dokter) ditulis dengan huruf kecil di depan nama.
- Angka. Bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, misalnya dua belas peserta. Bilangan pada awal kalimat selalu ditulis dengan huruf.
- Huruf miring. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan bahasa asing dan bahasa daerah, misalnya kata download dimiringkan, sedangkan padanan Indonesianya, unduh, ditulis tegak. Istilah Latin seperti et cetera juga dimiringkan.
Penutup
Kalimat efektif lahir dari kebiasaan menyunting, bukan dari menulis sekali jadi. Setelah menulis, bacalah kembali setiap kalimat dan tanyakan: apakah gagasannya satu, adakah kata yang bisa dibuang, dan apakah maknanya logis? Dengan latihan, skripsi, surat, dan artikel Anda akan terasa lebih jernih dan meyakinkan bagi pembaca.