Setiap hari kita menirukan ucapan orang lain, entah saat bercerita kepada teman atau menulis laporan. Ada dua cara melakukannya: mengutip persis kata demi kata, atau melaporkannya kembali dengan bahasa sendiri. Pilihan itu bukan sekadar selera, sebab masing-masing punya aturan tanda baca dan tata kata yang berbeda. Menguasai perbedaannya membuat tulisan lebih rapi sekaligus menjaga kita dari salah kutip.
Dua cara menyampaikan ucapan
Kalimat langsung mengutip secara persis apa yang diucapkan seseorang. Karena kata-katanya disalin apa adanya, petikannya selalu diapit tanda petik. Kalimat tak langsung sebaliknya: ia melaporkan kembali isi ucapan tanpa menyalin kata demi kata. Tanda petik dilepas, dan sering muncul konjungsi bahwa sebagai penghubung.
Perhatikan pasangan berikut:
- Langsung: Rina berkata, "Saya lelah hari ini."
- Tak langsung: Rina berkata bahwa dia lelah hari itu.
Aturan tanda baca kalimat langsung
Di sinilah kekeliruan paling sering terjadi. Ada tiga hal yang perlu dijaga: posisi tanda petik, huruf kapital di awal petikan, dan tanda koma pemisah.
Ketika pengiring mendahului petikan
Jika kalimat pengiring berada di depan, bubuhkan koma sesudahnya, lalu buka tanda petik. Huruf pertama petikan ditulis kapital, dan tanda akhir kalimat diletakkan di dalam tanda petik.
- Ibu berkata, "Adik harus rajin belajar."
- Bu Sari bertanya, "Siapa yang belum mengumpulkan tugas?"
Ketika petikan mendahului pengiring
Jika petikan berada di depan, tanda akhirnya tetap berada di dalam tanda petik. Untuk kalimat berita, titik diganti menjadi koma, lalu kata pengiring sesudahnya ditulis dengan huruf kecil.
- "Adik harus rajin belajar," kata Ibu.
- "Siapa yang belum mengumpulkan tugas?" tanya Bu Sari.
| Pola | Contoh | | --- | --- | | Pengiring lalu petikan | Ayah berkata, "Kita berangkat pagi." | | Petikan lalu pengiring | "Kita berangkat pagi," kata Ayah. | | Petikan terpotong | "Kita berangkat," kata Ayah, "sebelum matahari terbit." |
Titik dua pada naskah dialog
Dalam narasi biasa, pemisah petikan adalah koma. Tanda titik dua dipakai ketika percakapan ditulis dalam format naskah drama, yaitu sesudah nama pelaku, misalnya Sinta: "Aku menunggumu sejak tadi."
Mengubah langsung menjadi tak langsung
Prosesnya dapat ditempuh dalam empat langkah:
1. Hilangkan tanda petik beserta koma pengiringnya. 2. Tambahkan konjungsi yang sesuai: bahwa untuk pernyataan, agar atau supaya untuk perintah, dan apakah untuk pertanyaan ya-tidak. 3. Sesuaikan kata ganti orang mengikuti sudut pandang pelapor. 4. Sesuaikan keterangan waktu dan tempat.
Khusus kalimat tanya, bedakan dua jenisnya. Pertanyaan ya-tidak memakai apakah, sedangkan pertanyaan yang memakai kata tanya seperti siapa, apa, atau kapan cukup mempertahankan kata tanyanya tanpa apakah. Contohnya, Guru bertanya, "Siapa yang terlambat?" berubah menjadi Guru menanyakan siapa yang terlambat.
Perubahan kata ganti
Kata ganti bergeser tergantung siapa yang melapor kepada siapa. Kuncinya, tempatkan diri sebagai pihak yang melaporkan, bukan sebagai pihak yang diucapkan; dari sudut itu pelaku ucapan berubah menjadi orang ketiga. Berikut pola yang lazim ditemui:
| Kalimat langsung | Kalimat tak langsung | | --- | --- | | aku, saya | dia, ia | | kamu, engkau | saya, dia | | kita | kami, mereka | | -ku, -mu | -nya |
Perubahan keterangan waktu dan tempat
| Langsung | Tak langsung | | --- | --- | | sekarang | saat itu | | hari ini | hari itu | | besok | keesokan harinya | | kemarin | sehari sebelumnya | | di sini | di sana |
Terapkan pada contoh berikut:
- Langsung: Doni berkata, "Aku akan menyelesaikan laporan ini besok."
- Tak langsung: Doni berkata bahwa dia akan menyelesaikan laporan itu keesokan harinya.
- Langsung: Ani bertanya, "Apakah kamu sudah membaca suratku?"
- Tak langsung: Ani bertanya apakah saya sudah membaca suratnya.
Kesalahan yang sering muncul
Beberapa jebakan kerap berulang. Menaruh titik di luar tanda petik adalah yang paling umum; dalam ejaan bahasa Indonesia, tanda akhir kalimat berada di dalam petik. Kesalahan lain adalah masih memasang tanda petik pada kalimat tak langsung, lupa mengganti kata ganti sehingga laporan terdengar rancu, atau menulis huruf kapital pada kata pengiring yang mengikuti petikan.
Menguasai keduanya bukan soal menghafal, melainkan membiasakan mata membaca ulang sebelum menekan titik terakhir. Sekali kaidahnya melekat, setiap kutipan dalam tulisan Anda akan terbaca bersih, tepat, dan nyaman diikuti.