Pernahkah Anda menulis kalimat panjang, lalu ragu di mana koma harus dibubuhkan? Kebingungan itu biasanya muncul karena kalimat tersebut bukan kalimat tunggal lagi, melainkan kalimat majemuk, yaitu gabungan dua klausa atau lebih dalam satu untaian. Begitu Anda paham jenisnya, menempatkan konjungsi dan tanda baca jadi jauh lebih mudah. Mari kita bedah satu per satu.
Apa Itu Kalimat Majemuk?
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Klausa sendiri adalah satuan gramatikal yang sekurang-kurangnya memuat subjek dan predikat. Kalimat tunggal hanya punya satu klausa (satu subjek, satu predikat), sedangkan kalimat majemuk menggabungkan beberapa klausa dengan kata penghubung atau konjungsi.
Berdasarkan hubungan antarklausanya, kalimat majemuk dibagi menjadi tiga jenis utama: setara, bertingkat, dan campuran.
Kalimat Majemuk Setara (Koordinatif)
Pada kalimat majemuk setara, kedua klausa berkedudukan sederajat. Tidak ada yang menjadi induk atau anak; keduanya bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh. Penghubungnya adalah konjungsi koordinatif, seperti dan, atau, tetapi, sedangkan, dan lalu.
Contoh:
- Ayah membaca koran dan Ibu menyirami tanaman.
- Adik ingin menonton tetapi ia harus belajar dahulu.
- Kamu boleh tinggal atau kamu pulang sekarang.
Kalimat Majemuk Bertingkat (Subordinatif)
Berbeda dengan setara, kalimat majemuk bertingkat memiliki klausa yang tidak sederajat: ada induk kalimat dan ada anak kalimat. Anak kalimat bergantung pada induknya dan diawali konjungsi subordinatif, seperti karena, ketika, jika, meskipun, sehingga, agar, dan sebab.
Contoh:
- Kami pulang lebih awal karena hujan turun deras.
- Ketika bel berbunyi, murid-murid masuk kelas.
- Jika kamu rajin, nilaimu pasti membaik.
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran menggabungkan hubungan setara dan bertingkat sekaligus. Artinya, di dalam satu kalimat terdapat sekurang-kurangnya tiga klausa: ada yang sederajat dan ada yang bertingkat.
Contoh:
- Ketika lampu padam, Ayah menyalakan lilin dan Ibu mencari senter.
Ringkasan Pembeda
Tabel berikut merangkum ciri pembeda ketiga jenis kalimat majemuk.
| Jenis | Kedudukan Klausa | Konjungsi Umum | Contoh | |---|---|---|---| | Setara | Sederajat | dan, atau, tetapi, sedangkan | Dia datang, tetapi aku pergi. | | Bertingkat | Induk + anak | karena, ketika, jika, meskipun | Aku tinggal karena hujan deras. | | Campuran | Setara + bertingkat | gabungan keduanya | Saat hujan turun, dia tinggal dan aku pergi. |
Aturan Tanda Baca
Penempatan koma sering menjadi sumber kekeliruan. Berdasarkan EYD V, berikut kaidah praktisnya.
Konjungsi yang Didahului Koma
Tanda koma dipakai sebelum konjungsi tetapi, melainkan, dan sedangkan dalam kalimat setara.
- Saya ingin pergi, tetapi hari sudah malam.
- Bukan dia yang salah, melainkan aku.
Konjungsi dan/atau
Lazimnya, dan serta atau yang menggabungkan dua klausa tidak didahului koma. Namun, dalam perincian yang terdiri atas tiga unsur atau lebih, koma dipakai sebelum dan maupun atau (koma terakhir). Contoh: Saya membeli buku, pensil, dan penghapus.
Anak Kalimat di Depan
Pada kalimat bertingkat, jika anak kalimat mendahului induknya, anak kalimat itu diakhiri koma. Sebaliknya, bila induk yang lebih dahulu, koma tidak dipakai.
- Karena lelah, ia tidur lebih awal. (anak di depan, pakai koma)
- Ia tidur lebih awal karena lelah. (induk di depan, tanpa koma)