Setiap hari kita menghitung tanpa sadar: satu cangkir kopi, buku kedua di rak, beberapa pesan yang belum dibalas. Semua kata yang menyebut jumlah, urutan, atau kuantitas itu bernaung di bawah satu payung dalam tata bahasa Indonesia, yaitu numeralia atau kata bilangan. Bentuknya tampak sederhana, tetapi aturan penulisannya kerap keliru, terutama ketika angka bertemu imbuhan.
Peta Numeralia: yang Tentu dan yang Tak Tentu
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia membagi numeralia menjadi dua cabang besar. Numeralia takrif atau tentu menyebut jumlah yang pasti, sedangkan numeralia taktakrif atau tak tentu menyebut jumlah yang kabur. "Tiga puluh siswa" masuk kelompok pertama; "beberapa siswa" masuk kelompok kedua. Dari cabang yang tentu itulah tumbuh bilangan pokok, bilangan tingkat, bilangan kumpulan, dan bilangan pecahan.
Bilangan Pokok dan Bilangan Tingkat
Bilangan pokok atau kardinal adalah bentuk dasar penghitung: satu, dua, seratus, seribu. Awalan se- yang bermakna "satu" di sini ditulis serangkai, sehingga yang baku adalah sepuluh, sebelas, dan seratus, bukan se puluh atau se-ratus.
Bilangan tingkat atau ordinal menandai urutan: pertama, kedua, ketiga, keseratus. Hanya urutan awal yang memakai kata khusus pertama; sisanya dibentuk dengan awalan ke-. Bentuk kesatu sebenarnya sah, tetapi pertama jauh lebih lazim dipakai.
Aturan Menulis Bilangan Tingkat
Ada tiga cara yang dibenarkan, dan ketiganya tidak boleh dicampur dalam satu bentuk.
| Cara | Contoh | Catatan | | --- | --- | --- | | ke- + kata | kedua, kesepuluh | ditulis serangkai, tanpa tanda hubung | | ke- + angka Arab | ke-2, ke-10 | wajib memakai tanda hubung | | angka Romawi | II, X | tidak didahului ke- |
Jadi "juara kedua", "juara ke-2", dan "juara II" sama-sama benar. Yang keliru adalah menulis ke2 atau ke 2 tanpa tanda hubung, memenggal kedua menjadi ke-dua, atau menggabung ke- dengan angka Romawi menjadi ke-II.
Bilangan Kumpulan dan Bilangan Pecahan
Bilangan kumpulan menyatakan sekelompok yang utuh. Awalan ber- membentuk berdua, bertiga, dan berlima untuk menyebut pelaku yang bersama-sama: "Kami bertiga berangkat pagi." Awalan ke- di depan benda berarti "seluruh yang berjumlah sekian", seperti kedua tangannya dan ketiga anak itu. Perhatikan letaknya, karena inilah sumber kebingungan yang umum. Di depan benda, kedua berarti "dua-duanya"; di belakang benda, kedua berarti urutan, yaitu "yang kedua". Untuk menegaskan keseluruhan, dipakai bentuk ulang: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Bilangan pecahan dibentuk dengan kata per. Bila pembilangnya satu, dipakai se-; bila lebih, pembilang ditulis di depan.
| Lambang | Bentuk huruf | | --- | --- | | ½ | setengah atau seperdua | | ¼ | seperempat | | ¾ | tiga perempat | | ⅔ | dua pertiga | | 1½ | satu setengah |
Bilangan Tak Tentu dan Kata Penggolong
Numeralia tak tentu menyebut jumlah tanpa angka pasti: beberapa, banyak, sedikit, semua, seluruh, segenap, dan berbagai. Dua kata dari daftar ini kerap tertukar. Semua menekankan tiap anggota satu per satu, sedangkan seluruh menekankan keutuhan sebagai satu kesatuan. Karena itu kita berkata "semua siswa hadir" untuk menyorot tiap orang, tetapi "seluruh tubuhnya basah" untuk tubuh sebagai satu keutuhan.
Numeralia juga jarang menempel langsung pada benda; ia memerlukan kata penggolong. Kita menyebut seekor kucing, sebuah rumah, dan sehelai kertas, bukan satu kucing yang terdengar kaku. Awalan se- pada penggolong pun bermakna "satu". Karena penggolong memiliki bahasan tersendiri, cukup diingat bahwa perannya adalah jembatan antara bilangan dan benda.
Kapan Ditulis Angka, Kapan Ditulis Huruf
Ejaan bahasa Indonesia memberi rambu yang ringkas. Bilangan yang cukup dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf: "Ia membaca tiga buku." Namun angka dipakai untuk perincian, ukuran, satuan, nilai uang, dan persentase, misalnya 25 kilogram, Rp5.000,00, dan 10 persen. Bilangan pada awal kalimat selalu ditulis dengan huruf; bila susunannya menjadi terlalu panjang, kalimat sebaiknya diubah agar angka tidak jatuh di awal.
Numeralia memang kelas kata yang kita pakai setiap hari. Justru karena akrab, ketelitian kecil seperti satu tanda hubung pada ke-2 atau satu spasi yang tak perlu itulah yang membedakan tulisan yang rapi dari yang seadanya.