Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 4 menit baca

Verba Transitif dan Intransitif: Cara Mudah Membedakannya

Kenali kata kerja yang butuh objek dan yang tidak, lengkap dengan dua uji cepat, verba dwitransitif, dan petunjuk dari imbuhan.

Oleh

Coba ucapkan dua kalimat pendek ini: "Adik menendang" dan "Adik tidur". Kalimat kedua terasa utuh, tetapi yang pertama membuat kita menggantung dan bertanya: menendang apa? Rasa belum selesai itulah kunci untuk membedakan dua jenis kata kerja yang paling sering tertukar dalam bahasa Indonesia, yaitu verba transitif dan verba intransitif. Menguasainya bukan sekadar urusan istilah, melainkan cara memastikan kalimat kita lengkap, logis, dan bisa diubah bentuknya dengan tepat.

Dua jenis verba, satu perbedaan inti

Verba transitif adalah kata kerja yang menuntut kehadiran objek untuk melengkapi maknanya. Kata seperti membeli, menulis, dan memukul tidak bisa berdiri sendiri: "Ia membeli buku", "Saya menulis surat", "Ia memukul bola". Tanpa objek, kalimatnya terasa terputus di tengah jalan.

Sebaliknya, verba intransitif sudah lengkap tanpa objek. Berlari, tidur, dan menangis tidak memerlukan sasaran: "Ia berlari", "Bayi itu tidur", dan "Adik menangis" sudah merupakan kalimat yang utuh. Kita tidak bisa bertanya "berlari apa?" karena pertanyaan itu memang tidak berlaku.

Ciri dan dua cara mengujinya

Ada dua uji sederhana yang bisa langsung Anda pakai. Pertama, uji objek: cobalah meletakkan sebuah nomina persis setelah verba tanpa kata depan. Jika kalimat tetap wajar, verba itu transitif. "Ia menanam ..." menuntut lanjutan seperti "pohon", sedangkan "Ia datang pohon" jelas keliru.

Kedua, uji pasif: verba transitif hampir selalu bisa diubah menjadi bentuk pasif dengan di-, sementara verba intransitif tidak. "Buku itu dibeli" dan "Surat itu ditulis" terdengar wajar, tetapi bentuk seperti "dilari" atau "ditangis" tidak ada dalam bahasa baku.

| Aspek | Verba transitif | Verba intransitif | | --- | --- | --- | | Kebutuhan objek | Wajib ada objek | Tidak perlu objek | | Uji pasif (di-) | Bisa dipasifkan | Tidak bisa | | Contoh verba | membeli, menulis, memukul | berlari, tidur, menangis | | Contoh kalimat | Ia membeli buku | Ia berlari |

Verba dwitransitif: ketika objek ada dua

Sebagian verba bahkan menuntut dua unsur sekaligus, yaitu objek dan pelengkap. Inilah verba dwitransitif, seperti memberi, mengirimi, dan membelikan. Dalam kalimat "Ibu memberi adik uang", kata adik berperan sebagai objek dan uang sebagai pelengkap. Begitu pula "Saya mengirimi teman paket" dan "Ayah membelikan adik sepeda".

Perhatikan bahwa objeknyalah yang bisa naik menjadi subjek saat dipasifkan: "Adik diberi uang", "Adik dibelikan sepeda". Menariknya, akhiran -i dan -kan sering mengubah arah objek. Bandingkan "mengirim paket" (paket sebagai objek) dengan "mengirimi teman paket" (teman menjadi objek, paket menjadi pelengkap).

Petunjuk dari imbuhan

Bentuk kata sering memberi isyarat, meski bukan patokan mutlak. Imbuhan me-kan dan me-i cenderung membentuk verba transitif, misalnya membersihkan, menidurkan, menduduki, dan menemani. Sebaliknya, awalan ber- lazim menghasilkan verba intransitif seperti berlari, berenang, dan bekerja.

| Imbuhan | Kecenderungan | Contoh | | --- | --- | --- | | me-kan | transitif | membersihkan, memasukkan | | me-i | transitif | menduduki, menemani | | ber- | intransitif | berlari, berenang, bekerja | | meN- | bisa keduanya | membaca (transitif), menangis (intransitif) |

Perhatikan baris terakhir: awalan meN- saja tidak menjamin apa pun. Membaca menuntut objek, tetapi menangis tidak. Karena itu, uji objek dan uji pasif tetap lebih dapat diandalkan daripada sekadar menebak dari bentuk kata.

Objek atau sekadar keterangan?

Satu jebakan yang umum: mengira setiap kata setelah verba adalah objek. Dalam "Ia duduk di kursi", frasa di kursi adalah keterangan tempat, bukan objek, dan duduk tetap intransitif. Bandingkan dengan "Ia menduduki kursi", yang transitif dan bisa dipasifkan menjadi "Kursi itu diduduki". Ciri pembeda yang paling andal: hanya objek yang dapat naik menjadi subjek dalam kalimat pasif, sedangkan keterangan tidak bisa.

Begitu Anda terbiasa dengan dua uji tadi, menggolongkan verba menjadi hampir refleks. Cukup tanyakan: bisakah verba ini diberi objek, dan bisakah ia dipasifkan? Dari jawaban sederhana itu, struktur kalimat Anda akan lebih rapi, dan pilihan imbuhan pun menjadi lebih sadar dan lebih tepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan verba transitif dan intransitif?
Verba transitif memerlukan objek dan umumnya bisa dipasifkan, misalnya membeli pada 'Ia membeli buku'. Verba intransitif tidak memerlukan objek dan tidak bisa dipasifkan, misalnya berlari pada 'Ia berlari'.
Apa itu verba dwitransitif dan contohnya?
Verba dwitransitif adalah kata kerja yang menuntut dua unsur, yaitu objek dan pelengkap. Contohnya memberi, mengirimi, dan membelikan, seperti dalam 'Ibu memberi adik uang'.
Bagaimana cara menguji sebuah verba transitif atau intransitif?
Coba beri objek berupa nomina langsung setelah verba, lalu coba ubah ke bentuk pasif dengan di-. Jika keduanya bisa, verba itu transitif; jika tidak, verba itu intransitif.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Kalimat Verbal dan Nominal: Mengenal Kalimat dari Jenis Predikatnya

    Coba perhatikan dua kalimat ini: "Adik menangis" dan "Ayahnya guru." Keduanya utuh dan benar, tetapi…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Hubung (-) menurut EYD V: Fungsi Lengkap dan Beda dengan Tanda Pisah

    Tanda hubung tampak sepele: hanya satu garis pendek yang mudah diabaikan. Namun garis kecil inilah yang…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kerja Sama atau Kerjasama? Aturan Gabungan Kata Menurut EYD V

    "Kerja sama" atau "kerjasama"? "Tanggung jawab" atau "tanggungjawab"? Pertanyaan sederhana ini muncul hampir…

    4 menit baca