Setiap hari kita menekan tombol "unduh" tanpa berpikir, tetapi tetap mengetik "email" alih-alih "surel". Dua kata itu sama-sama padanan resmi buatan Badan Bahasa, lahir dari semangat yang sama, tetapi nasibnya berbeda jauh. Yang satu jadi kata sehari-hari, yang lain nyaris hanya hidup di kamus. Memetakan mana yang menang dan mana yang kalah membuka satu hal menarik tentang cara bahasa Indonesia menyerap dunia digital.
Dua jalur menyerap istilah asing
Saat istilah teknologi baru masuk, bahasa Indonesia punya dua pilihan utama. Pertama, penyerapan: kata asing diambil dengan penyesuaian ejaan dan lafal, seperti unggah berkas yang ditulis ulang dari ejaan asing, atau dipertahankan apa adanya seperti email. Kedua, pemadanan: dicari atau diciptakan kata Indonesia yang maknanya sepadan, sering kali dengan menghidupkan kembali kata lama atau membentuk kata baru.
Banyak padanan digital lahir lewat jalur kedua. Unduh dan unggah sendiri bukan serapan dari bahasa Inggris, melainkan kata yang dihidupkan dari khazanah lokal lalu diberi makna baru. Tetikus untuk mouse dibentuk dari "tikus" karena bentuk perangkatnya menyerupai hewan itu, lengkap dengan kabel yang mirip ekor. Peramban berasal dari kata "ramban" yang berarti memetik atau menjelajah dedaunan, sebuah kiasan untuk menjelajahi halaman web. Pemadanan seperti ini bukan asal terjemah, melainkan mencari rasa makna yang pas.
Daftar padanan dan tingkat pemakaiannya
Berikut sejumlah pasangan yang sering dibahas, beserta gambaran jujur seberapa lazim padanannya dipakai dalam keseharian.
| Istilah Inggris | Padanan resmi | Seberapa lazim dipakai | | --- | --- | --- | | download | unduh | Sangat umum | | upload | unggah | Sangat umum | | online / offline | daring / luring | Daring umum, luring lebih jarang | | selfie | swafoto | Cukup dikenal | | gadget | gawai | Cukup dikenal | | netizen | warganet | Umum di media | | link | tautan | Cukup umum | | browser | peramban | Sebagian, "browser" masih kuat | | mouse | tetikus | Jarang, "mouse" tetap dominan | | email | surel | Jarang, "email" tetap dominan |
Tabel ini bukan ukuran resmi, hanya potret pemakaian sehari-hari. Tetapi polanya cukup jelas: ada padanan yang sudah menyatu, ada yang setengah jalan, dan ada yang tertinggal.
Mengapa sebagian padanan menang
Padanan yang menang biasanya punya beberapa ciri yang sama.
Pendek dan mudah dilafalkan
Unduh dan unggah hanya dua suku kata, mudah diucapkan, dan langsung terasa sebagai kata kerja. Bandingkan dengan "men-download" yang canggung secara tata bahasa. Tombol aplikasi pun lebih ringkas memakai "unduh", sehingga kata itu muncul terus di depan mata pengguna.
Didukung pemakaian resmi
Daring dan luring menyebar luas karena dipakai dokumen pemerintah, sekolah, dan media, terutama saat kegiatan jarak jauh meningkat. Warganet juga lazim di pemberitaan karena praktis untuk judul. Begitu sebuah kata sering muncul di ruang resmi dan media, ia cepat terasa wajar.
Maknanya transparan
Swafoto terbaca jelas: "swa" berarti sendiri, jadi foto diri sendiri. Tautan sudah lama berarti sambungan atau kaitan, sehingga maknanya pas untuk link. Kata yang maknanya bisa ditebak lebih mudah diterima daripada yang terasa asing di telinga.
Mengapa sebagian padanan kalah
Sebaliknya, surel dan tetikus kalah bukan karena salah bentuk, melainkan karena keadaan.
Kata Inggrisnya sudah telanjur mengakar lebih dulu. "Email" dan "mouse" sudah dipakai bertahun-tahun sebelum padanannya populer, dan kebiasaan sulit digeser. Selain itu, kedua kata asing itu pendek dan akrab, jadi tidak ada dorongan praktis untuk menggantinya. Antarmuka perangkat dan aplikasi pun jarang menampilkan "surel" atau "tetikus", sehingga kata-kata itu tidak pernah mendapat panggung yang cukup.
Pelajaran pentingnya: padanan menang bukan karena dipaksakan, melainkan karena lebih nyaman dan lebih sering terlihat. Kata yang baik tetapi tidak pernah muncul di layar akan tetap sepi.
Lalu, mana yang sebaiknya dipakai
Tidak ada gunanya bersikap kaku. Dalam tulisan resmi, akademik, atau yang ingin terasa rapi berbahasa Indonesia, padanan seperti unduh, unggah, daring, luring, tautan, dan warganet sudah cukup lazim dan aman dipakai. Untuk surel, tetikus, atau peramban, sah saja memakai padanannya, tetapi wajar pula bila pembaca lebih mengenal bentuk Inggrisnya.
Bahasa hidup mengikuti penuturnya. Kamus mencatat dan menawarkan pilihan, sementara pemakaian sehari-hari yang menentukan kata mana yang akhirnya benar-benar tinggal.