Sebagian kata yang terdengar paling "Indonesia" sebenarnya perantau jauh. Ketika kita menyeruput anggur, mengagumi seorang pahlawan, atau duduk dalam sebuah dewan, kita sedang memakai kosakata yang menempuh perjalanan panjang dari dataran Persia. Kata-kata itu tidak tiba lewat penaklukan, melainkan lewat dua jalur yang lembut namun awet: perdagangan dan sastra keagamaan.
Dua pintu masuk: pasar dan pustaka
Berbeda dengan serapan Sanskerta yang datang pada masa Hindu-Buddha atau serapan Belanda pada masa kolonial, kata-kata Persia umumnya masuk pada era Islam - sering kali secara tidak langsung, melewati India dan jaringan keilmuan Arab-Persia. Selama berabad-abad, bahasa Persia adalah bahasa gengsi di dunia Islam: bahasa istana, ilmu, dan puisi dari Asia Tengah hingga anak benua India. Para pedagang Muslim, termasuk orang Persia, singgah di pelabuhan Nusantara dan, bersama barang dagangan, menitipkan kata.
Jalur kedua adalah pustaka. Banyak hikayat Melayu klasik menyadur kisah berbahasa Persia, misalnya Hikayat Amir Hamzah. Lewat naskah, pengajian, dan tradisi tasawuf, istilah Persia meresap ke dalam bahasa Melayu yang kelak menjadi tulang punggung bahasa Indonesia. Itu sebabnya banyak serapan Persia terasa halus dan menyatu, bukan seperti istilah teknis yang baru dipinjam kemarin. Menariknya, sebagian besar serapan itu mengelompok di ranah tertentu - dagang, pelayaran, istana, dan ritual - persis bidang tempat pengaruh Persia paling terasa.
Kosakata yang sudah mapan
Sejumlah kata cukup kuat ditelusuri asal-usulnya ke bahasa Persia, dan menariknya banyak yang jatuh ke dalam dua rumpun makna yang saling melengkapi: dunia dagang-pelayaran dan dunia istana.
Kata dagang dan pelayaran
Dunia pelabuhan meninggalkan jejak yang tebal. Bandar berarti pelabuhan, tempat kapal berlabuh dan barang berpindah tangan. Saudagar berarti pedagang, tersusun dari sauda (dagang) dan akhiran -gar yang menandai pelaku, mirip pola pada kata Persia lain. Nakhoda, sang pemimpin kapal, berasal dari gabungan yang bermakna "tuan kapal". Ke pelabuhan itu pula datang komoditas seperti gandum dan anggur - kata terakhir kini mencakup buah maupun minumannya - yang namanya ikut menetap di lidah kita.
Kata istana dan kepahlawanan
Kelompok kedua berkisar pada kekuasaan dan kehormatan. Takhta adalah singgasana raja, dan pahlawan bermakna jagoan atau kesatria. Adapun dewan, yang kini berarti balai atau majelis, dalam bahasa Persia juga dipakai untuk kumpulan puisi, seperti pada Diwan karya penyair besar. Ketiganya mencerminkan dunia istana dan pustaka tempat bahasa Persia dahulu dijunjung tinggi.
| Kata Indonesia | Bentuk Persia | Makna asal | | --- | --- | --- | | anggur | angur | buah anggur | | bandar | bandar | pelabuhan | | gandum | gandum | gandum | | saudagar | saudagar | pedagang | | nakhoda | nakhoda | tuan atau pemimpin kapal | | pahlawan | pahlavan | jagoan, kesatria | | takhta | takht | singgasana | | dewan | divan | balai, majelis |
Perlu dicatat, bandar di sini bermakna pelabuhan, bukan bandar dalam arti pengepul taruhan.
Bunyi yang menyesuaikan diri
Kata pinjaman jarang masuk utuh; ia dibentuk ulang agar nyaman di lidah penutur. Persia angur menjadi anggur dengan gugus bunyi ngg. Takht yang berakhir dengan gugus konsonan berat berubah menjadi takhta dengan tambahan vokal di ujung. Divan melunak menjadi dewan, dan pahlavan menjadi pahlawan karena bunyi v yang tidak lazim bergeser ke w. Penyesuaian bunyi seperti inilah yang membuat kata-kata tersebut lama-kelamaan tak lagi terasa asing. Sebaliknya, saudagar dan bandar nyaris tak berubah bentuk, tanda bahwa sebagian kata sudah pas dengan pola bunyi Melayu sejak awal.
Ketika Persia dan Arab berjalin
Karena Persia dan Arab sama-sama masuk lewat gerbang Islam, jejaknya kerap bertumpang tindih. Contoh paling jelas adalah biadab. Kata dasarnya, adab, berasal dari bahasa Arab, tetapi awalan bi- yang bermakna "tanpa" justru ciri khas Persia. Jadi biadab secara harfiah berarti "tanpa adab" - sebuah kata hibrida yang lahir dari dua bahasa sekaligus. Di lingkungan pesantren dan tarekat, kosakata Arab dan Persia dipelajari berdampingan, sehingga keduanya kerap dianggap satu paket ketika masuk ke bahasa Melayu. Karena percampuran semacam ini, memberi label "Persia murni" atau "Arab murni" sering kali menyederhanakan sejarah yang sebenarnya berkelindan.
Kata yang masih diperdebatkan
Tidak semua contoh sama pastinya. Tamasya biasanya dilacak ke Persia tamasha (tontonan, pesiar), meski akar kata itu masih dihubungkan pula dengan bahasa Arab. Kenduri, jamuan doa atau selamatan, umum dianggap serapan Persia yang berkaitan dengan tradisi ritual Islam. Domba pun kerap disebut berasal dari Persia. Perdebatan muncul karena sebuah kata bisa singgah di beberapa bahasa sebelum sampai ke Melayu, sehingga jejaknya bercabang. Untuk kata-kata seperti ini, sikap paling jujur adalah menyebut asal yang lazim dirujuk sambil mengakui bahwa jalur pastinya masih diperdebatkan para peneliti.
Penutup
Kosakata Persia mengingatkan kita bahwa bahasa Indonesia adalah muara, bukan sumur tertutup. Dari pasar dan pustaka, kata-kata itu berlayar, menyesuaikan bunyi, lalu menetap begitu dalam sampai kita lupa mereka pernah menjadi tamu. Menelusuri asalnya bukan soal memisahkan yang "asli" dari yang "pinjaman", melainkan membaca sejarah pertemuan antarbangsa.