Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 4 menit baca

SPOK: Mengenal Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan

Panduan ringkas membedah unsur kalimat bahasa Indonesia, lengkap dengan cara membedakan objek, pelengkap, dan keterangan beserta pola-pola dasarnya.

Oleh

Setiap kalimat yang kita ucapkan sebenarnya tersusun dari potongan-potongan yang bertugas jelas. Saat sebuah kalimat terasa janggal, sering kali penyebabnya bukan kata yang salah, melainkan unsur yang tidak pada tempatnya. Dengan mengenali SPOK - Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan, ditambah Pelengkap - kita bisa membedah kalimat mana pun sekaligus menyusunnya kembali dengan rapi.

Empat Unsur Inti dan Satu Pelengkap

Subjek adalah pokok yang dibicarakan atau pelaku dalam kalimat. Untuk menemukannya, ajukan pertanyaan "apa" atau "siapa" di depan predikat. Predikat adalah inti pernyataan, bagian yang menerangkan perbuatan, keadaan, atau identitas subjek. Predikat tidak selalu berupa kata kerja; ia juga bisa berupa kata benda, kata sifat, atau kata bilangan, seperti pada "Ayahnya guru" dan "Rumahnya besar". Kalimat "Anaknya dua" bahkan berpredikat kata bilangan.

Objek adalah unsur yang dikenai tindakan. Ia hanya hadir setelah predikat berupa verba transitif, yaitu kata kerja yang menuntut sasaran dan umumnya berawalan me-, seperti membaca, menendang, atau membeli. Keterangan memberi informasi tambahan mengenai tempat, waktu, cara, alat, tujuan, atau sebab. Adapun Pelengkap melengkapi predikat yang maknanya belum utuh, tetapi perilakunya berbeda dari objek, seperti akan kita lihat nanti.

Cara Mengenali Tiap Unsur

Cara termudah adalah bertanya kepada kalimat. Subjek dijawab oleh "apa/siapa yang melakukan", predikat oleh "sedang apa" atau "bagaimana", sedangkan objek dijawab oleh "predikat + apa/siapa". Uji pertanyaan ini bekerja untuk hampir semua kalimat berita.

| Unsur | Pertanyaan penguji | Contoh (dicetak tebal) | |---|---|---| | Subjek | Siapa yang menanam? | Petani menanam padi. | | Predikat | Petani sedang apa? | Petani menanam padi. | | Objek | Menanam apa? | Petani menanam padi. | | Keterangan | Di mana? Kapan? | Petani menanam padi di sawah. |

Predikat menjadi jangkar; setelah menemukannya, unsur lain lebih mudah dikenali. Perlu diingat, predikat kadang mendahului subjek pada kalimat susun balik, misalnya "Telah tiba rombongan tamu itu". Karena itu, mengandalkan urutan semata tidak cukup - kita perlu menguji peran tiap bagian, bukan sekadar letaknya.

Objek, Pelengkap, atau Keterangan?

Inilah bagian yang paling sering mengecoh. Kuncinya ada pada tiga uji sederhana.

Uji pertama adalah pemasifan. Objek dapat berubah menjadi subjek ketika kalimat dipasifkan: "Ibu menyapu halaman" menjadi "Halaman disapu Ibu". Pelengkap tidak bisa diperlakukan begitu; "Kakak berjualan gorengan" tidak dapat menjadi "Gorengan dijualan Kakak".

Uji kedua adalah preposisi. Objek tidak pernah didahului kata depan, sedangkan keterangan kerap diawali di, ke, dari, pada, atau dengan. Uji ketiga adalah pemindahan posisi. Keterangan boleh dipindah tanpa merusak kalimat: "Tadi pagi ayah berolahraga" sama sahihnya dengan "Ayah berolahraga tadi pagi". Objek dan pelengkap tidak seluwes itu.

| Ciri | Objek | Pelengkap | Keterangan | |---|---|---|---| | Letak | tepat setelah verba transitif | setelah verba tertentu | bebas | | Didahului preposisi | tidak | biasanya tidak | sering | | Bisa jadi subjek pasif | bisa | tidak | tidak | | Sifat | wajib | wajib | umumnya manasuka |

Ringkasnya, objek dan pelengkap sama-sama melekat erat pada predikat dan tidak bisa dipindah, tetapi hanya objek yang sanggup naik menjadi subjek. Keterangan berdiri lebih longgar dan boleh berpindah tempat. Ketiga uji tadi - pemasifan, preposisi, dan pemindahan - biasanya cukup untuk memilah ketiganya dalam sekejap.

Ragam Keterangan yang Umum

Keterangan adalah unsur paling lentur karena jenisnya banyak dan posisinya bebas. Beberapa yang paling sering muncul: keterangan tempat (di sekolah), keterangan waktu (setiap pagi), keterangan cara (dengan tenang), keterangan alat (memakai sabit), keterangan tujuan (untuk ujian), dan keterangan sebab (karena hujan). Karena sifatnya menambah, sebagian besar keterangan bisa dihapus tanpa membuat kalimat menjadi tidak gramatikal, meski maknanya jadi lebih miskin. Pengecualiannya adalah keterangan yang dituntut verba tertentu, seperti pada "Mereka tinggal di Bandung"; tanpa keterangan tempat, kalimat itu terasa menggantung.

Pola-Pola Kalimat Dasar

Dari kombinasi unsur di atas lahir sejumlah pola baku yang menjadi kerangka hampir semua kalimat Indonesia. Menariknya, kalimat yang tampak rumit umumnya hanyalah salah satu pola ini yang diperpanjang dengan tambahan keterangan atau frasa.

| Pola | Contoh | |---|---| | S-P | Adik tidur. | | S-P-O | Rani menulis surat. | | S-P-O-K | Rani menulis surat di kamar. | | S-P-Pel | Bangsa Indonesia berlandaskan Pancasila. | | S-P-O-Pel | Ayah membelikan adik sepatu. | | S-P-K | Rombongan itu berangkat kemarin. |

Pada pola S-P-O-Pel, adik berkedudukan sebagai objek karena dapat menjadi subjek ("Adik dibelikan sepatu oleh ayah"), sementara sepatu tetap menjadi pelengkap.

Membedah Satu Kalimat Utuh

Mari kita bongkar kalimat: "Kemarin sore, para relawan membersihkan selokan itu dengan cekatan."

Para relawan adalah subjek, membersihkan adalah predikat, dan selokan itu adalah objek karena bisa dipasifkan menjadi "selokan itu dibersihkan". Sisanya adalah keterangan: kemarin sore menunjukkan waktu, sedangkan dengan cekatan menunjukkan cara. Perhatikan bahwa kedua keterangan itu bisa kita geser ke ujung kalimat tanpa mengubah maknanya.

Coba pula pola berpelengkap: "Adik saya menjadi ketua kelas." Adik saya adalah subjek, menjadi adalah predikat, dan ketua kelas adalah pelengkap - bukan objek - karena kalimat itu mustahil dipasifkan menjadi "Ketua kelas dijadikan adik saya". Verba menjadi memang menuntut pelengkap untuk melengkapi maknanya.

Menguasai SPOK bukan sekadar hafalan istilah, melainkan cara berpikir tentang bagaimana makna dirakit. Begitu Anda terbiasa menandai subjek, predikat, dan teman-temannya, kalimat panjang pun tak lagi membingungkan - dan tulisan Anda sendiri akan terasa lebih tertata.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu SPOK dalam bahasa Indonesia?
SPOK adalah singkatan dari empat unsur kalimat: Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Keempatnya menjadi kerangka dasar untuk menyusun dan membedah kalimat, dan sering ditambah Pelengkap sebagai unsur kelima.
Apa perbedaan objek dan pelengkap?
Objek dapat berubah menjadi subjek ketika kalimat dipasifkan, sedangkan pelengkap tidak bisa. Objek juga selalu berada tepat setelah verba transitif, yang umumnya berawalan me-, sementara pelengkap kerap mengikuti verba berawalan ber- atau verba seperti menjadi.
Apa saja pola kalimat dasar bahasa Indonesia?
Pola dasar yang umum adalah S-P, S-P-O, S-P-O-K, S-P-Pel, dan S-P-O-Pel. Hampir semua kalimat panjang merupakan pengembangan dari pola-pola ini dengan tambahan keterangan atau frasa.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Cara Menulis Surat Lamaran Kerja yang Baik dan Baku

    Surat lamaran kerja adalah kesan pertama yang tiba sebelum Anda sempat berbicara. Banyak pelamar cakap justru…

    3 menit baca

  2. Umum

    Tanda Kurung, Kurung Siku, dan Garis Miring dalam EYD V

    Tiga tanda baca ini sering dianggap remeh: sepasang tanda kurung ( ), kurung siku [ ], dan sebilah garis…

    3 menit baca

  3. Umum

    Kata Seru (Interjeksi): Jenis, Ciri, dan Aturan Tanda Bacanya

    Perhatikan percakapan sehari-hari: "Wah, keren!", "Aduh, sakit!", "Ih, geli!" Kata-kata pendek yang meledak…

    3 menit baca