Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Sejarah· 6 menit baca

Kata-Kata Indonesia yang Hampir Punah

Kosakata indah yang masih tercatat di KBBI tapi nyaris tidak pernah dipakai lagi

Oleh

Kosakata yang Berdebu

KBBI menampung lebih dari 100.000 entri. Tapi sebagian besar penutur Bahasa Indonesia hanya aktif memakai 3.000-5.000 kata dalam keseharian. Ribuan kata lain ada di KBBI tapi praktis tidak pernah dipakai — mereka kosakata yang sudah arkais, atau spesifik untuk konteks yang sudah jarang.

Mari telusuri beberapa yang sayang kalau hilang.

Kata-Kata yang Indah tapi Sepi

Kelana (mengembara)

> "Si kelana berhenti di lembah ini setelah tiga purnama."

Pernah sangat populer di sastra dan lagu. Sekarang lebih sering ditulis sebagai pengembara atau traveller. Kelana terasa lebih puitis dan ringkas.

Pemajuk (yang memajukan)

Kata sifat untuk hal-hal yang membawa kemajuan. Sudah jarang sekali muncul, padahal akar katanya jelas dan formasi kata indah.

Senduk-senduk (mengangguk-angguk dengan ringan)

Onomatopoeia visual untuk gerakan kepala yang anggun. Sangat khas Bahasa Indonesia tetapi sudah hampir tidak dipakai.

Beriak (berombak kecil)

> "Air danau yang beriak kala senja."

Lebih spesifik dari "berombak" atau "bergelombang" — menggambarkan gerakan halus, tenang. Banyak puisi memakainya, tetapi penulis modern jarang menyentuhnya.

Bercahaya, Berkilau, Gemerlap

Tiga kata yang sebenarnya berbeda nuansa tetapi sering ditukar:
  • Bercahaya — memancarkan cahaya sendiri (matahari, lentera)
  • Berkilau — memantulkan cahaya (emas, kaca)
  • Gemerlap — banyak titik kilau bersamaan (langit malam, lampu kota)
Penutur modern cenderung memilih satu (berkilau) untuk semua konteks, sehingga ketiga kata kehilangan presisi.

Kata Profesi yang Hilang

Beberapa kata untuk profesi tradisional sudah jarang dipakai karena profesinya sendiri sudah jarang:

Pandai Besi

Pengrajin logam tradisional yang membuat parang, cangkul, pisau. Sekarang masih ada di beberapa daerah tetapi disebut "tukang besi" atau "pengrajin logam."

Pawang

Orang yang punya kemampuan khusus mengelola alam (pawang hujan, pawang ular). Istilah masih hidup tapi maknanya bergeser ke yang lebih "mystical" — kata sehari-hari diganti "ahli" atau "spesialis."

Mualim

Guru agama Islam senior. Sekarang lebih sering disebut "ustaz" atau "kyai." Mualim kedengarannya kuno meski sebenarnya lebih spesifik.

Sengaja

> "Sengaja bumi luas, sengaja langit tinggi."

Penggunaan kuno sengaja sebagai konjungsi (= "supaya") sudah hilang. Sekarang hanya dipakai sebagai kata sifat ("tidak sengaja", "kesengajaan").

Kata Sifat yang Sayang Dilupakan

Bestari (cantik bestari = cantik luar dalam)

Sifat yang menggabungkan kecantikan fisik dengan kemuliaan budi. Sekarang sering disingkat jadi baik atau cantik saja — kehilangan dimensi spiritual yang dulu ada.

Khidmat

> "Suasana yang khidmat di ruang sidang."

Berarti penuh hormat, sungguh-sungguh. Masih digunakan tapi sudah berkurang frekuensinya. Banyak penulis modern pakai serius atau resmi — yang kurang puitis.

Bahagia vs Suka cita

Suka cita (perasaan gembira yang dalam, sering dengan konteks formal/religi) berbeda dari bahagia (gembira umum). Tapi banyak penulis modern menggantinya hanya dengan bahagia atau senang.

Maklum

Maklum (mengerti dengan empati, memaafkan) sudah jarang dipakai dalam konteks formal. Sekarang lebih banyak dipakai dalam SMS singkat: "maklum, dia masih kecil."

Mengapa Kata-Kata Hilang?

Beberapa alasan:

Digantikan Kata Asing

Banyak kata Indonesia tergantikan padanan Inggris yang dianggap lebih internasional. Pawang jadi handler, kelana jadi traveller, bestari jadi beautiful inside out.

Kompetisi dengan Padanan Sinonim

Ketika ada dua kata dengan nuansa berbeda (bercahaya vs berkilau), penutur cenderung memilih satu untuk semua konteks — yang lain pelan-pelan hilang.

Profesi atau Konteks Hilang

Pandai besi langka karena profesinya jarang. Senduk-senduk tidak diperlukan karena cara mendeskripsikan gerakan kepala telah berubah.

Frekuensi Eksposur

Generasi yang tidak pernah membaca sastra klasik (Marah Rusli, Pramoedya, Sutan Takdir) jarang bertemu kosakata indah ini. Tanpa eksposur, tidak ada adopsi.

Bisakah Diselamatkan?

Beberapa upaya:

Penulis Modern Memakainya

Andrea Hirata, Eka Kurniawan, Dewi Lestari — sastrawan modern yang sengaja mengangkat kembali kata-kata indah. Hasilnya: tulisan mereka terdengar khas, kaya, tidak generik.

Pendidikan

Mengajarkan sastra klasik di sekolah dengan eksplisit menyorot kosakata indah. Bukan hanya menghapal, tetapi memahami nuansa.

Penulis Konten Online

Penulis blog, podcaster, kreator konten yang berani memakai kata-kata "lama" memperkenalkan ulang ke audiens baru.

Diri Sendiri

Setiap kali kita memilih bercahaya daripada terang, khidmat daripada serius, atau kelana daripada traveller — kita ikut menjaga kata-kata itu tetap hidup.

Penutup

Bahasa kaya tidak datang dari banyak kosakata di kamus, tetapi dari banyak kosakata yang dipakai. Kata yang dilupakan adalah harta yang dibiarkan berdebu.

Mari sebar lebih banyak kata indah. Bukan untuk pamer, tetapi untuk membuat percakapan kita lebih kaya — lebih presisi, lebih puitis, lebih hidup.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa contoh kata Indonesia yang hampir punah?
Contohnya kelana (mengembara), bestari (cantik luar dalam), khidmat (penuh hormat), dan beriak (berombak kecil) — kata indah yang masih tercatat di KBBI tetapi jarang dipakai.
Mengapa kata-kata indah Indonesia menghilang?
Karena tergantikan kata asing, kalah bersaing dengan sinonim yang lebih umum, profesinya hilang, dan generasi muda jarang membaca sastra klasik yang memuat kosakata itu.
Bagaimana cara menyelamatkan kata yang hampir punah?
Dengan memakainya kembali dalam tulisan, mengajarkan sastra klasik, dan memilih kata yang lebih presisi seperti "bercahaya" atau "khidmat" dalam percakapan sehari-hari.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Sejarah

    Dari 'oe' ke 'u': Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

    Kenapa Nama Kakek Kita Ditulis Aneh? Kalau Anda melihat dokumen lama, nama-nama tertulis dengan ejaan yang…

    7 menit baca

  2. Sejarah

    Dari Mana Nama 'Indonesia' Berasal?

    Nama yang Tidak Diciptakan oleh Orang Indonesia Ada sesuatu yang ironis sekaligus menarik: nama "Indonesia" —…

    7 menit baca

  3. Sejarah

    Mengapa Indonesia Pakai Huruf Latin, Bukan Aksara Lokal?

    Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan Kita menulis Bahasa Indonesia dengan huruf Latin — A, B, C, dan seterusnya.…

    6 menit baca