Nama yang Tidak Diciptakan oleh Orang Indonesia
Ada sesuatu yang ironis sekaligus menarik: nama "Indonesia" — yang kini menjadi identitas 270 juta orang — tidak diciptakan oleh orang Indonesia. Ia lahir dari pena seorang ahli hukum Skotlandia di Penang, kemudian dipopulerkan oleh seorang etnolog Jerman di Berlin, sebelum akhirnya dijadikan senjata oleh para nasionalis yang ingin merdeka dari Belanda.
George Windsor Earl: Gagasan yang Hampir Hilang
Pada 1850, seorang ahli geografi dan pengacara Inggris bernama George Windsor Earl menerbitkan sebuah artikel di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Dalam artikel itu, ia mencoba mencari nama yang tepat untuk penduduk kepulauan Asia Tenggara maritim.
Earl mengusulkan dua pilihan: "Malayunesians" (dari Melayu) atau "Indu-nesians" (dari kata Yunani Indos, yang merujuk pada kawasan antara India dan Cina). Ia sendiri lebih condong ke Malayunesians.
Namun rekannya di jurnal yang sama, James Richardson Logan — juga seorang ahli hukum asal Skotlandia — memilih opsi kedua dan menggunakannya dalam tulisannya di tahun yang sama: "Indonesia".
Logan-lah yang pertama kali mencetak kata "Indonesia" dalam sebuah publikasi. Tapi ia tidak benar-benar mempopulerkannya — kata ini hampir tenggelam selama dua dekade.
Adolf Bastian: Penyebar yang Sesungguhnya
Yang menjadikan "Indonesia" dikenal luas adalah Adolf Bastian, seorang etnolog Jerman yang produktif. Dalam karya-karyanya pada 1880-an — terutama dalam buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (Indonesia atau Pulau-Pulau Kepulauan Melayu) — ia menggunakan nama ini untuk merujuk pada wilayah dan penduduk kepulauan tersebut.
Buku Bastian dibaca oleh banyak sarjana dan pejuang kemerdekaan Asia Tenggara. Dari jalur akademik inilah nama "Indonesia" mulai masuk ke kesadaran para terpelajar pribumi.
Etimologi: Apa Arti "Indonesia"?
Nama ini terdiri dari dua akar kata Yunani:
- Indos (Ἰνδός) — bentuk Yunani untuk kata "India" atau "Sindhu", merujuk pada kawasan di sekitar Sungai Indus dan seterusnya ke arah timur
- Nesos (νῆσος) — berarti "pulau"
Bandingkan dengan nama-nama serupa:
- Polynesia — "banyak pulau" (polys = banyak)
- Micronesia — "pulau-pulau kecil" (mikros = kecil)
- Melanesia — "pulau-pulau hitam" (melas = hitam, merujuk warna kulit penduduk)
Para Nasionalis Merebut Nama Itu
Pada awal abad ke-20, para pelajar Indonesia di Belanda dan di tanah air mulai menggunakan nama "Indonesia" sebagai identitas perlawanan terhadap penjajahan.
Ki Hajar Dewantara (saat masih bernama Suwardi Suryaningrat) menggunakan nama "Indonesische Pers-bureau" untuk biro persnya di Belanda pada 1913. Ini adalah salah satu penggunaan paling awal nama "Indonesia" dalam konteks politis oleh orang Indonesia sendiri.
Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan organisasi-organisasi pemuda daerah lainnya mulai bergerak menuju identitas nasional yang lebih besar. Puncaknya adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di mana para pemuda dari seluruh kepulauan menyatakan:
> "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia." > "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia." > "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."
Nama yang diciptakan oleh orang Eropa kini menjadi senjata kemerdekaan — sebuah identitas yang dipilih secara sadar oleh rakyat yang dijajah untuk mendefinisikan diri mereka sendiri.
Mengapa Bukan "Nusantara"?
Ini pertanyaan yang wajar. Nusantara adalah nama berusia berabad-abad dalam tradisi Jawa, berasal dari bahasa Sansekerta: nusa (pulau) + antara (luar, antara). Majapahit menggunakannya untuk menyebut kepulauan di luar Jawa yang berada dalam pengaruhnya.
Beberapa alasan mengapa para nasionalis memilih "Indonesia" daripada "Nusantara":
1. Nusantara terasa Jawa-sentris — ia adalah nama yang digunakan oleh imperium Jawa (Majapahit) untuk wilayah taklukan 2. Indonesia lebih netral — ia bukan milik suku atau tradisi tertentu 3. Indonesia sudah digunakan secara internasional oleh para sarjana Eropa — ada preseden akademik yang memudahkan pengakuan internasional 4. Indonesia membawa konsep baru — bukan kontinuitas dari kekuasaan Jawa lama, melainkan identitas bangsa yang sepenuhnya baru
Ironisnya, pada 2022, pemerintah Indonesia memilih nama "Nusantara" untuk ibu kota baru — membawa nama tua itu kembali dalam konteks yang benar-benar berbeda.
Belanda Melarang Nama Ini
Pemerintah kolonial Belanda melarang penggunaan nama "Indonesia" karena ia bermuatan politis — ia menyiratkan identitas nasional yang terpisah dari imperium Belanda. Para aktivis yang menggunakannya menghadapi risiko hukuman.
Larangan ini justru memperkuat daya tarik nama itu. Semakin dilarang, semakin besar artinya bagi gerakan kemerdekaan.
Nama sebagai Deklarasi
Ketika Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, nama yang mereka gunakan — "Republik Indonesia" — adalah warisan dari satu rantai panjang: dari etimologi Yunani, ke sarjana Skotlandia, ke etnolog Jerman, ke pelajar nasionalis, ke pejuang kemerdekaan.
Sebuah nama bisa menjadi ideologi. Dan inilah buktinya.