Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan
Kita menulis Bahasa Indonesia dengan huruf Latin — A, B, C, dan seterusnya. Tapi pernahkah kamu memikirkan: kenapa?
Indonesia punya banyak aksara tradisional — Jawa, Bali, Bugis, Batak, Pegon (Arab-Jawa), Jawi (Arab-Melayu). Kebanyakan negara di Asia masih memakai aksara mereka sendiri: Thailand pakai aksara Thai, India pakai Devanagari, Tiongkok pakai Hanzi. Tapi Indonesia memilih huruf Latin.
Cerita di balik pilihan ini.
Aksara-Aksara Indonesia Sebelum Latin
Sebelum kolonial Belanda, beberapa aksara dipakai aktif di Nusantara:
Aksara Pallawa (abad 4-7)
Aksara India yang masuk lewat Hindu-Buddha. Dipakai untuk prasasti Sanskerta di Jawa dan Sumatra. Asal usul banyak aksara Nusantara.Aksara Kawi (abad 8-15)
Berkembang dari Pallawa, dipakai untuk Bahasa Jawa Kuno. Banyak naskah klasik (kakawin) ditulis dengan ini.Aksara Jawa (Hanacaraka)
Berasal dari Kawi, masih dipakai di Yogyakarta dan Solo untuk konteks budaya tertentu. Punya bentuk indah dengan struktur silabik (satu karakter = satu suku kata).Aksara Bali
Sangat mirip Jawa tapi punya variasi. Masih dipakai aktif di Bali untuk teks agama dan budaya.Aksara Lontara (Bugis-Makassar)
Aksara Sulawesi Selatan, sangat khas dengan bentuk geometris.Aksara Batak
Lima varian (Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing). Dipakai untuk teks tradisional.Jawi (Arab-Melayu)
Aksara Arab yang dimodifikasi untuk menulis Melayu. Dipakai di Aceh, Riau, Malaysia, Brunei sejak abad 14. Banyak naskah keagamaan dan sastra Melayu klasik dalam Jawi.Pegon (Arab-Jawa)
Mirip Jawi tapi untuk Bahasa Jawa. Dipakai di pesantren-pesantren Jawa.Tiga Kandidat Utama untuk Aksara Nasional
Pada awal abad 20, saat pergerakan kebangsaan mempertimbangkan bahasa nasional, ada tiga kandidat aksara yang masuk akal:
1. Latin
Dibawa Belanda, sudah dipakai di pendidikan modern dan administrasi sejak abad 19. Dikenal kelas terdidik.2. Jawi (Arab-Melayu)
Tradisi tulis Melayu sudah lama dengan Jawi. Banyak sastra Melayu klasik dalam aksara ini.3. Hanacaraka (Aksara Jawa)
Tradisi tulis terbesar di Nusantara. Banyak naskah, banyak penutur.Mengapa Latin Menang?
Tiga alasan utama:
1. Tidak Memihak Etnis Tertentu
Pemilihan Jawa akan terasa didominasi Jawa — tidak adil ke Sumatra, Sulawesi, Maluku, dll. Pemilihan Jawi akan terasa didominasi Melayu-Muslim — tidak adil ke pemeluk agama lain. Latin netral terhadap semua kelompok dalam negeri.2. Kompatibel dengan Mesin Cetak Modern
Pada 1928, percetakan dan mesin tik di Indonesia semua sudah memakai font Latin (warisan kolonial). Ganti ke aksara lain akan mahal dan memperlambat modernisasi.3. Konektivitas Internasional
Latin adalah aksara dominan untuk perdagangan, sains, dan diplomasi internasional. Pemakaian Latin memudahkan integrasi dengan dunia modern.Pertentangan dan Keberatan
Tidak semua orang setuju. Beberapa keberatan di masa itu:
Dari Tokoh Islam
Sebagian ulama berpendapat Jawi lebih cocok karena erat dengan tradisi Islam. Penolakan Jawi dianggap menjauhkan dari warisan religius.Dari Pelestari Budaya
Aksara lokal (Jawa, Bali, Lontara) adalah warisan budaya yang berharga. Memilih Latin berarti membiarkan aksara ini kehilangan vitalitas.Dari Kelompok Anti-Kolonial
Ada argumen bahwa Latin adalah simbol kolonialisme. Memakai aksara penjajah dianggap tidak konsisten dengan semangat kemerdekaan.Penyelesaian Pragmatis
Akhirnya argumen praktis menang. Latin dipilih dengan beberapa kompromi:
1. Aksara lokal tetap diakui sebagai warisan budaya dan diajarkan terbatas di sekolah daerah 2. Jawi dan Pegon tetap dipakai di konteks religius dan beberapa naskah tradisional 3. Latin menjadi standar administrasi dan pendidikan formal
Kondisi Hari Ini
Setelah hampir 80 tahun memakai Latin:
Aksara Lokal yang Bertahan
- Aksara Jawa — masih dipelajari di sekolah Jawa Tengah & DIY (mata pelajaran muatan lokal)
- Aksara Bali — sangat hidup, dipakai di pura, upacara, signage
- Lontara, Batak, Rejang — terancam, hanya komunitas kecil aktif
Jawi
Masih dipakai di Aceh untuk dokumen keagamaan, di pesantren tertentu, di Riau untuk warisan Melayu. Tapi penutur aktif menurun.Latin
Dominan untuk semua tulisan modern — buku, koran, sign, internet.Bisakah Kita Mempertahankan Keduanya?
Ya, banyak negara melakukannya. Jepang memakai tiga sistem (Kanji, Hiragana, Katakana) plus Latin (Romaji). India memakai Devanagari plus Latin untuk berbagai konteks.
Indonesia bisa lebih aktif mempertahankan aksara lokal sebagai:
- Mata pelajaran wajib di daerah asal
- Signage publik (sudah dilakukan di Bali — nama jalan dalam aksara Bali + Latin)
- Konten digital (Unicode mendukung semua aksara Indonesia)
- Identitas budaya yang dilestarikan
Penutup
Pemilihan Latin adalah keputusan pragmatis 1928 yang berhasil dari sisi membangun kesatuan dan modernisasi. Tapi keputusan itu juga membawa biaya budaya — aksara-aksara lokal yang dulu hidup kini berada di titik kritis.
Tantangan generasi sekarang: bisakah kita memakai Latin sebagai bahasa kerja, tetapi tetap menghormati dan mempertahankan aksara warisan? Itu tidak harus pilih satu — kita bisa pilih dua-duanya, dengan kesadaran dan disiplin.
Setiap aksara adalah cara berbeda memikirkan dunia. Kalau kita kehilangan aksara, kita kehilangan satu cara berpikir.