Dari Beberapa Bahasa Tionghoa
Berbeda dari serapan Sanskerta atau Arab yang datang dari satu lapisan kebudayaan tertentu, serapan dari bahasa Tionghoa masuk via beberapa bahasa daerah Tionghoa — terutama Hokkien (Min Nan), dengan tambahan kontribusi dari Hakka, Kanton, dan kemudian Mandarin modern.
Hokkien dominan karena banyak perantauan awal ke Nusantara berasal dari Fujian Selatan, terutama pada abad ke-17 hingga ke-19.
Kategori Serapan
Kuliner — Paling Banyak
Ini area dimana pengaruh Tionghoa paling terasa:- Tahu dari tāu-hu (Hokkien: kacang berfermentasi)
- Tauge dari tāu-gê (kacang yang tumbuh)
- Bakso dari bah-so (daging giling)
- Mi atau Mie dari mī (mi)
- Bihun dari bí-hún (tepung beras)
- Cap cai dari chap-tshài (sepuluh sayur)
- Lumpia dari lūn-piáⁿ (sepuluh gulungan)
- Bakmi dari bah-mī (mi daging)
- Bakwan dari bah-oân (bola daging)
- Lobak dari lô-pak
- Kecap dari kè-tsiap — kata yang kemudian dipinjam INGGRIS menjadi ketchup!
Perdagangan
- Untung mungkin dari un-tâng atau bentuk Tionghoa serupa
- Loteng dari lâu-thèng (tingkat atas)
- Toko dari thò-kò
- Tahil (satuan berat) dari thái-lí
Kekeluargaan & Komunitas
- Engkong dari an-kong (kakek)
- Encek dari am-tsek (paman ayah)
- Engtek dari an-tī (adik)
- Ko-ko atau koko dari ko-ko (kakak laki-laki)
- Mei dari muē (adik perempuan)
Game dan Hiburan
- Capjiki (judi tradisional) dari cha̍p-jī-ki (dua belas kartu)
- Mahjong — masih bentuk asli
- Gambling sendiri kadang dipakai sebagai dialek
Tahu — Kata yang Punya Dua Asal
Yang menarik: kata tahu dalam Bahasa Indonesia sebenarnya dua kata berbeda yang kebetulan punya bentuk sama:
1. Tahu (mengerti, mengetahui) — kata asli Melayu/Austronesia 2. Tahu (makanan dari kedelai) — serapan Hokkien tāu-hu
Sehingga kalimat "saya tahu tahu" sebenarnya pakai dua kata berbeda — yang pertama "saya mengerti", kedua "tahu (makanan)". Kebetulan yang langka tapi menyenangkan.
Pola Adaptasi
Bunyi Hokkien tidak selalu sama dengan Mandarin modern. Karena kebanyakan serapan dari Hokkien:
- Bah (daging) → "bak" (bakso, bakmi, bakwan)
- Tâu (kacang) → "tahu", "tauge"
- Tshài (sayur) → "cai"
Pengaruh Mandarin Modern
Setelah Republik Tiongkok (1912) dan Republik Rakyat Tiongkok (1949), Mandarin standar (Putonghua) mendominasi pengajaran bahasa Tionghoa di Indonesia. Hari ini, serapan baru dari bahasa Tionghoa cenderung dari Mandarin:
- Imlek dari chūn jié secara konsep
- Angpao dari hóng bāo
Mengapa Tidak Lebih Banyak?
Padahal komunitas Tionghoa hadir di Nusantara lebih dari 700 tahun, mengapa serapan Tionghoa lebih sedikit dari Sanskerta atau Arab?
Beberapa alasan:
1. Komunitas relatif terpisah — komunitas Tionghoa cenderung membentuk enklave (Glodok, Pecinan) yang menjaga bahasa internal mereka tanpa banyak mempengaruhi penduduk asli 2. Kebijakan asimilasi Orde Baru — selama 1966-1998, bahasa dan nama Tionghoa dilarang publik, yang menghambat penyerapan 3. Skala demografis — komunitas Tionghoa adalah minoritas (~3% populasi), kurang dari komunitas penutur Sanskerta historis di kerajaan-kerajaan kuno
Tapi di ranah kuliner dan istilah perdagangan kecil, pengaruhnya tetap kuat — karena dua ranah ini sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat luas.
Penutup
Bahasa Indonesia mencerminkan struktur sosial Nusantara: campuran kosakata dari berbagai lapisan kebudayaan yang pernah hadir. Tionghoa adalah satu lapisan penting — yang terlihat paling jelas saat kita ngemil bakso, mencelup ayam ke kecap, atau memanggil orang tua dengan sebutan engkong.
Bahasa membawa sejarah. Kalau kita perhatikan, setiap suapan makanan bisa jadi pelajaran etimologi.