Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Etimologi· 6 menit baca

Kata Serapan Tionghoa: dari 'Tahu' sampai 'Cap Cai'

Pengaruh komunitas Tionghoa Nusantara yang membentuk kosakata dapur, perdagangan, dan kekeluargaan

Oleh

Dari Beberapa Bahasa Tionghoa

Berbeda dari serapan Sanskerta atau Arab yang datang dari satu lapisan kebudayaan tertentu, serapan dari bahasa Tionghoa masuk via beberapa bahasa daerah Tionghoa — terutama Hokkien (Min Nan), dengan tambahan kontribusi dari Hakka, Kanton, dan kemudian Mandarin modern.

Hokkien dominan karena banyak perantauan awal ke Nusantara berasal dari Fujian Selatan, terutama pada abad ke-17 hingga ke-19.

Kategori Serapan

Kuliner — Paling Banyak

Ini area dimana pengaruh Tionghoa paling terasa:
  • Tahu dari tāu-hu (Hokkien: kacang berfermentasi)
  • Tauge dari tāu-gê (kacang yang tumbuh)
  • Bakso dari bah-so (daging giling)
  • Mi atau Mie dari (mi)
  • Bihun dari bí-hún (tepung beras)
  • Cap cai dari chap-tshài (sepuluh sayur)
  • Lumpia dari lūn-piáⁿ (sepuluh gulungan)
  • Bakmi dari bah-mī (mi daging)
  • Bakwan dari bah-oân (bola daging)
  • Lobak dari lô-pak
  • Kecap dari kè-tsiap — kata yang kemudian dipinjam INGGRIS menjadi ketchup!

Perdagangan

  • Untung mungkin dari un-tâng atau bentuk Tionghoa serupa
  • Loteng dari lâu-thèng (tingkat atas)
  • Toko dari thò-kò
  • Tahil (satuan berat) dari thái-lí

Kekeluargaan & Komunitas

  • Engkong dari an-kong (kakek)
  • Encek dari am-tsek (paman ayah)
  • Engtek dari an-tī (adik)
  • Ko-ko atau koko dari ko-ko (kakak laki-laki)
  • Mei dari muē (adik perempuan)
Di daerah dengan komunitas Tionghoa besar (Pontianak, Medan, Singkawang, Pulau Bangka), istilah-istilah ini sangat aktif dipakai.

Game dan Hiburan

  • Capjiki (judi tradisional) dari cha̍p-jī-ki (dua belas kartu)
  • Mahjong — masih bentuk asli
  • Gambling sendiri kadang dipakai sebagai dialek

Tahu — Kata yang Punya Dua Asal

Yang menarik: kata tahu dalam Bahasa Indonesia sebenarnya dua kata berbeda yang kebetulan punya bentuk sama:

1. Tahu (mengerti, mengetahui) — kata asli Melayu/Austronesia 2. Tahu (makanan dari kedelai) — serapan Hokkien tāu-hu

Sehingga kalimat "saya tahu tahu" sebenarnya pakai dua kata berbeda — yang pertama "saya mengerti", kedua "tahu (makanan)". Kebetulan yang langka tapi menyenangkan.

Pola Adaptasi

Bunyi Hokkien tidak selalu sama dengan Mandarin modern. Karena kebanyakan serapan dari Hokkien:

  • Bah (daging) → "bak" (bakso, bakmi, bakwan)
  • Tâu (kacang) → "tahu", "tauge"
  • Tshài (sayur) → "cai"
Itu sebabnya transkripsi serapan Tionghoa di Indonesia kadang tidak cocok dengan pinyin Mandarin modern. Akarnya beda dialek.

Pengaruh Mandarin Modern

Setelah Republik Tiongkok (1912) dan Republik Rakyat Tiongkok (1949), Mandarin standar (Putonghua) mendominasi pengajaran bahasa Tionghoa di Indonesia. Hari ini, serapan baru dari bahasa Tionghoa cenderung dari Mandarin:

  • Imlek dari chūn jié secara konsep
  • Angpao dari hóng bāo
Tapi serapan yang sudah lama tertanam — bakso, mi, kecap — tetap dalam bentuk Hokkien-nya.

Mengapa Tidak Lebih Banyak?

Padahal komunitas Tionghoa hadir di Nusantara lebih dari 700 tahun, mengapa serapan Tionghoa lebih sedikit dari Sanskerta atau Arab?

Beberapa alasan:

1. Komunitas relatif terpisah — komunitas Tionghoa cenderung membentuk enklave (Glodok, Pecinan) yang menjaga bahasa internal mereka tanpa banyak mempengaruhi penduduk asli 2. Kebijakan asimilasi Orde Baru — selama 1966-1998, bahasa dan nama Tionghoa dilarang publik, yang menghambat penyerapan 3. Skala demografis — komunitas Tionghoa adalah minoritas (~3% populasi), kurang dari komunitas penutur Sanskerta historis di kerajaan-kerajaan kuno

Tapi di ranah kuliner dan istilah perdagangan kecil, pengaruhnya tetap kuat — karena dua ranah ini sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat luas.

Penutup

Bahasa Indonesia mencerminkan struktur sosial Nusantara: campuran kosakata dari berbagai lapisan kebudayaan yang pernah hadir. Tionghoa adalah satu lapisan penting — yang terlihat paling jelas saat kita ngemil bakso, mencelup ayam ke kecap, atau memanggil orang tua dengan sebutan engkong.

Bahasa membawa sejarah. Kalau kita perhatikan, setiap suapan makanan bisa jadi pelajaran etimologi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa contoh kata serapan Tionghoa dalam Bahasa Indonesia?
Contohnya tahu (tāu-hu), bakso (bah-so), mi (mī), bihun, cap cai (sepuluh sayur), lumpia, dan kecap — sebagian besar dari bahasa Hokkien dan berkaitan dengan kuliner.
Dari bahasa Tionghoa apa kebanyakan serapan berasal?
Kebanyakan dari Hokkien (Min Nan), karena banyak perantau awal ke Nusantara berasal dari Fujian Selatan pada abad ke-17 hingga ke-19. Itu sebabnya transkripsinya sering beda dari pinyin Mandarin.
Apakah kata "kecap" berasal dari Tionghoa?
Ya, "kecap" berasal dari Hokkien "kè-tsiap", dan menariknya kata ini kemudian dipinjam Bahasa Inggris menjadi "ketchup".
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Etimologi

    Unduh Menang, Surel Kalah: Memetakan Padanan Kata Serapan Digital

    Setiap hari kita menekan tombol "unduh" tanpa berpikir, tetapi tetap mengetik "email" alih-alih "surel". Dua…

    4 menit baca

  2. Etimologi

    Bahasa Indonesia vs Bahasa Malaysia: Serumpun tapi Berbeda

    Dua Cabang dari Satu Pohon Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia (Bahasa Melayu Malaysia) berasal dari akar…

    7 menit baca

  3. Etimologi

    Pengaruh Bahasa Jawa pada Bahasa Indonesia Nasional

    Bahasa Terbesar yang Bukan Bahasa Nasional Bahasa Jawa adalah bahasa dengan penutur asli terbanyak di…

    6 menit baca