Bahasa Terbesar yang Bukan Bahasa Nasional
Bahasa Jawa adalah bahasa dengan penutur asli terbanyak di Indonesia — sekitar 80-85 juta orang, atau sekitar 30% populasi nasional. Meski bukan bahasa nasional, pengaruhnya terhadap Bahasa Indonesia sangat besar — lebih besar dari yang disadari kebanyakan orang.
Ini bukan kebetulan. Pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya Indonesia selama berabad-abad — Majapahit, Mataram, hingga Jakarta modern — berada di Pulau Jawa. Ketika Bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa nasional pada 1928, ia tidak tumbuh dalam ruang hampa: ia bertumbuh di lingkungan yang didominasi penutur Jawa.
Kata-Kata Jawa yang Sudah Menjadi Indonesia
Banyak kata yang kini dianggap "biasa saja" dalam Bahasa Indonesia ternyata berasal dari Bahasa Jawa:
Emosi dan Suasana Hati
- mumpung — selagi ada kesempatan; dari Jawa mumpung
- sebal — jengkel, kesal; dari Jawa sêbal
- was-was — cemas, khawatir; dari Jawa was-was
- gemas — rasa ingin mencubit karena sesuatu yang menggemaskan; dari Jawa gêmas
- melongo — terbuka mulut karena terkejut atau tertegun; dari Jawa melongo
- ngebet — sangat ingin; dari Jawa ngebet
- uring-uringan — mudah marah, rewel; dari Jawa uring-uringan
Karakter dan Perilaku
- canggih — menariknya, kata ini dulunya berarti "cerewet, tidak polos" dalam Jawa. Maknanya bergeser dalam Bahasa Indonesia modern menjadi "sophistikated, teknologi tinggi."
- udik — dari desa, tidak tahu apa-apa; dari Jawa udik (hulu sungai, pedalaman)
- judes — galak, kasar; dari Jawa judês
- sableng — gila, tidak waras (informal); dari Jawa
Benda dan Situasi
- pethak — tidak ada padanannya langsung, tapi konsep ini merasuk ke banyak frasa
- kondangan — menghadiri hajatan/pesta; dari Jawa kondangan
- rewang — membantu di dapur saat ada hajatan; kata khas yang tidak ada padanannya di Melayu
Kata yang Sering Disalahkira Melayu Asli
- sungkan — segan, tidak enak hati; dari Jawa sungkan
- cekatan — cepat dan terampil; dari Jawa cêkatan
- gandrung — sangat tergila-gila; dari Jawa gandrung
- ngerti — pengertian/tahu (informal); dari Jawa ngerti
Pengaruh pada Struktur Kalimat
Pengaruh Jawa tidak hanya pada kosakata. Ada pola tata bahasa dan pragmatik yang terserap:
Partikel -e / -nya sebagai Topikalisasi
Dalam Bahasa Jawa, akhiran -e berfungsi sebagai topik marker. Dalam Bahasa Indonesia informal di Jawa, ini muncul sebagai -nya:
- "Mobilnya baru." (topik: mobil itu, yang kita bicarakan tadi)
- "Orangnya baik."
Kalimat Tanpa Subjek Eksplisit
Bahasa Jawa sering menghilangkan subjek karena informasi itu sudah tersimpan dalam konteks. Bahasa Indonesia informal di lingkungan Jawa mengikuti pola serupa:
- "Sudah makan?" (tanpa "kamu")
- "Belum pulang." (tanpa "dia")
Pengaruh Lewat Bahasa Betawi
Jakarta (dulu Batavia) memiliki Bahasa Betawi yang menyerap banyak unsur Jawa, Melayu, Sunda, Portugis, dan Arab. Karena Jakarta adalah pusat media dan hiburan, banyak kosakata Betawi — yang sudah kaya unsur Jawa — masuk ke Bahasa Indonesia melalui sinetron, film, lagu, dan media.
Kata-kata seperti bokap (ayah), nyokap (ibu), ember (memang, iya), males (malas) menyebar ke seluruh Indonesia lewat media, meski asal muasalnya adalah pergaulan urban Jakarta yang multietnis.
Kontroversi: Apakah Ini Penjajahan Linguistik?
Ada diskusi akademik tentang apakah dominasi penutur Jawa dalam pemerintahan dan elite nasional Indonesia sejak kemerdekaan telah menjadikan Bahasa Indonesia lebih "Jawa" dari yang seharusnya. Beberapa linguist menyebutnya Javanization of Indonesian.
Sisi lain berargumen bahwa ini adalah proses alami: bahasa nasional selalu menyerap dari bahasa yang paling banyak penuturnya dan paling berkuasa secara politik. Bahasa Inggris menyerap dari bahasa Prancis setelah Penaklukan Norman; Bahasa Indonesia menyerap dari Jawa setelah kemerdekaan.
Yang jelas: Bahasa Indonesia bukan sekadar Melayu modern. Ia adalah bahasa baru yang lahir dari pertemuan banyak tradisi linguistik, dan Jawa adalah salah satu penyumbang terbesarnya.
Mengapa Ini Penting?
Memahami pengaruh Jawa membantu penutur Indonesia:
1. Memahami variasi regional: kenapa orang Jawa berbicara dengan gaya tertentu yang terasa "lebih" Bahasa Indonesia di mata orang lain 2. Membaca teks lama: dokumen dari era 1950-1970an sering kaya nuansa Jawa 3. Menghargai keragaman sumber: Bahasa Indonesia bukan milik satu suku — ia dibangun dari kontribusi banyak bahasa daerah, dan Jawa adalah salah satu yang terbesar