Loncat ke konten
artikata.id
  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. e
  6. f
  7. g
  8. h
  9. i
  10. j
  11. k
  12. l
  13. m
  14. n
  15. o
  16. p
  17. q
  18. r
  19. s
  20. t
  21. u
  22. v
  23. w
  24. x
  25. y
  26. z

Umum· 5 menit baca

Onomatopoeia Bahasa Indonesia: Bunyi yang Jadi Kata

Dari 'cetar' sampai 'gemerincing' — kata yang lahir dari pendengaran

Oleh

Apa Itu Onomatopoeia?

Onomatopoeia (dari Yunani: onoma "nama" + poiein "membuat") adalah kata yang bunyinya meniru objek yang ia gambarkan. Bahasa apa pun punya kata-kata seperti ini — tapi cara setiap bahasa "mendengar" bunyi yang sama bisa berbeda.

Bahasa Indonesia kaya dengan onomatopoeia, dan ada beberapa pola unik yang menarik untuk diamati.

Pola Reduplikasi

Banyak onomatopoeia Indonesia memakai pengulangan untuk menggambarkan bunyi berulang:

  • Ketak-ketuk (suara pintu, palu)
  • Cetar-cetar (suara petir, ledakan kecil)
  • Tik-tik (suara hujan, jam)
  • Krak-krak (suara patah)
  • Plek-plek (suara tepuk lembut)
Pola ini mencerminkan bahwa bunyi yang dimaksud biasanya terulang dalam waktu, bukan satu kali.

Pola Awalan Bunyi

Beberapa onomatopoeia punya awalan bunyi tertentu yang menandakan kategori:

Awal "Ge-" untuk Bunyi Bergetar/Kontinyu

  • Gemerincing (suara genta atau koin)
  • Gemuruh (suara guntur, deras air)
  • Gemeretak (suara kayu terbakar)
  • Gemerlap (cahaya berkilau — sinestesi)
  • Gemertak (suara patah berulang)

Awal "Ber-" untuk Bunyi Aktif

  • Berdesir (suara angin, ombak)
  • Berdebar (suara jantung)
  • Berdengung (suara serangga, mesin)

Awal "Men-" untuk Bunyi sebagai Verba

  • Mendesis (ular, telepon, kompor gas bocor)
  • Menggelegar (guntur, ledakan besar)
  • Mengerang (suara orang sakit)

Onomatopoeia Hewan

Indonesia mendengar hewan berbeda dari bahasa lain:

| Hewan | Indonesia | Inggris | Jepang | |---|---|---|---| | Anjing | guk-guk | woof | wan-wan | | Kucing | meong | meow | nyan | | Sapi | mooh | moo | mō-mō | | Ayam jantan | kukuruyuk | cock-a-doodle-doo | kokekokkō | | Bebek | kwek-kwek | quack | gā-gā | | Burung | cit-cit | tweet | piyo-piyo |

Yang menarik: kita semua mendengar bunyi fisik yang sama, tetapi setiap bahasa mendekati transkripsinya berbeda. Ini menunjukkan bahwa onomatopoeia bukan murni meniru — ia juga konvensi budaya.

Onomatopoeia Modern

Bahasa Indonesia terus menambah onomatopoeia baru, terutama dari kebudayaan pop:

Dari Komik dan Anime

  • Dor! (tembakan)
  • Bam! atau boom! (ledakan)
  • Wuss! (sesuatu lewat cepat)
  • Pranggg! (kaca pecah)
  • Krrrk! (radio statis)

Dari Bahasa Anak Muda

  • Cetarrr! — onomatopoeia "petir" yang dipakai sebagai ekspresi WOW
  • Boom! (mic drop atau capaian impresif)
  • Pluk! atau pluk pluk (jatuh ringan)
Onomatopoeia ini lebih dari sekadar bunyi — ia jadi ekspresi emosi.

Sinestesi: Bunyi sebagai Visual

Beberapa onomatopoeia Indonesia menyeberang ke sinestesi — menggambarkan sesuatu yang sebenarnya bukan bunyi:

  • Gemerlap — cahaya berkilau (visual, bukan auditori)
  • Berbinar — mata bercahaya (visual)
  • Berkilauan — refleksi cahaya (visual)
Ini menarik karena strukturnya sama dengan onomatopoeia (awalan ber- + bunyi reduplikasi mirip), tetapi targetnya bukan suara. Bahasa Indonesia secara konseptual memperluas pola onomatopoeia ke pengalaman sensoris lain.

Dalam Sastra dan Puisi

Penulis Indonesia memanfaatkan onomatopoeia untuk menghidupkan adegan:

> "Tik. Tik. Tik. Hujan baru saja mulai. Lalu lebih cepat. Tikk-tikk-tikk. Tak lama: byurrr."

Onomatopoeia memberi ritme kepada teks, mengantar pembaca ke pengalaman sensoris.

Chairil Anwar terkenal dengan penggunaan bunyi yang efektif: > "Aku ini binatang jalang... / Aku tetap meradang menerjang"

Konsonan keras r yang berulang menciptakan rasa agresif tanpa harus eksplisit menjelaskan.

Onomatopoeia yang Hilang

Beberapa onomatopoeia lama yang sudah jarang dipakai:

  • Tang-ting-tang-ting (suara alat musik tradisional)
  • Tek-tok (suara langkah sandal kayu)
  • Gemerencing (variasi gemerincing yang lebih puitis)
Saat teknologi atau budaya bergeser, onomatopoeia yang terkait juga memudar. Saat sandal kayu jarang dipakai, tek-tok kehilangan referen.

Penutup

Onomatopoeia adalah jembatan antara dunia fisik (bunyi) dan dunia simbolik (bahasa). Mempelajarinya berarti memahami bagaimana sebuah bahasa "mendengar" dunia di sekelilingnya.

Bahasa Indonesia mendengar dengan caranya sendiri. Itu salah satu hal yang membuatnya tidak bisa diganti bahasa lain — meski semua bahasa di dunia mendengar petir yang sama, hanya Bahasa Indonesia yang mendengar cetarrr.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu onomatopoeia?
Onomatopoeia adalah kata yang bunyinya meniru objek yang digambarkannya, dari Yunani "onoma" (nama) dan "poiein" (membuat), misalnya "tik-tik" untuk hujan atau "dor" untuk tembakan.
Apa contoh onomatopoeia suara hewan dalam Bahasa Indonesia?
Contohnya guk-guk (anjing), meong (kucing), kukuruyuk (ayam jantan), kwek-kwek (bebek), dan cit-cit (burung).
Mengapa suara hewan berbeda di tiap bahasa?
Karena onomatopoeia bukan murni meniru bunyi, melainkan juga konvensi budaya. Bunyi fisiknya sama, tetapi setiap bahasa "mendengar" dan menuliskannya dengan caranya sendiri.
Diterbitkan — Diperbarui

Artikel Lain

  1. Umum

    Homofon dan Homograf: Saat Bunyi atau Tulisan Saling Menyamar

    Coba ucapkan "bank" dan "bang" keras-keras. Telinga Anda hampir tidak bisa membedakannya, padahal yang satu…

    4 menit baca

  2. Umum

    Diksi: Seni Memilih Kata yang Tepat, Sesuai, dan Lazim

    Dua kalimat bisa menyampaikan maksud yang sama, tetapi terasa sangat berbeda. "Ayahnya sudah mati" dan…

    4 menit baca

  3. Umum

    Kalimat Majemuk: Setara, Bertingkat, dan Campuran beserta Tanda Bacanya

    Pernahkah Anda menulis kalimat panjang, lalu ragu di mana koma harus dibubuhkan? Kebingungan itu biasanya…

    4 menit baca